Sakit yang menggigit itu mulai terasa


Kuingat kata-kata bu Lina di hari-hari awal ngobrol denganku,”Setelah hari kelima mulai terasa sakitnya”.  Ada lagi seorang wanita muda yang juga pernah diopname tanya, “Ibu sudah berapa kali?” “Baru mau dua kali,” jawabku. “Nanti kalau sudah empat kali mulai terasa sakitnya”, katanya. Dari dokter dan perawat aku diberitahu bahwa efek radiasi itu akan terasa setelah 10 kali sinar. Aku tampung saja semua info, karena respon tubuh terhadap radiasi dari masing-masing pasien berbeda-beda, bergantung dosis dan daya tahan tubuh. Hingga hari keempat aku masih bisa sarapan soto dan bubur ayam, meskipun mulai sulit mengunyah. Gigi kananku terasa naik, sehingga kalau gigi geraham atas dan gigi bawah bersentuhan, gigi geraham atas dan bawah rahang kiri belum bertemu. Jadi makanan tidak dikunyah sempurna. Itupun aku mengunyah sambil menhan sakit. Aku ingat kata-kata bu Lina,” Selagi masih bisa makan makan yang banyak, karena nanti akan sulit menelan”.

Setiap pagi aku sempatkan mampir di Soto Boyolali, Jalan Trunijoyo untuk sarapan. Cuma soto ini yang membuatku berselera dan aku belum bosan. Rasanya segar, ditambah kucuran jeruk nipis. Karena mengunyah soto semakin terasa menyakitkan dan nasipun tidak bisa dikunyah lembut aku besoknya lalu pindah ke bubur ayam Utem di lapangan Saparua. Makan bubur aku tak perlu banyak mengunyah dan buburnya enak, tapi semua asesorisnya seperti seprihan ayam, potongan cakue, bawang goreng dan potongan daun seledri kutinggalkan, telor hanya kuambil putihnya. Dengan susah payah aku menghabiskan menu pagiku. Kupaksakan untuk mengisi perut, ku berusaha sering makan meskipun dalam porsi  kecil. Selera ingin makan selalu ada, rasa ingin makan ada, tapi aku semakin kesulitan mengunyah.

Hari ini aku istirahat radiasi dua hari, karena libur Sabtu, Ahad. Sudah 6 kali aku menjalani radiasi atau sinar. Rasa sakit itu semakin terasa, di bagian yang ada kankernya, di leher dekat pangkal lidah terasa ada benjolan yang membengkak. Di bagian lidah yang hitam juga terasa menyakitkan. Benjolan di gusi juga perih sekali, menggoyang gigi hingga terasa sakit gigi. Rasa sakit hanya di sebelah kanan, tetapi bagian lain rongga mulut juga sudah mulai merasakan efeknya. Aku masih bisa mengecap rasa makanan, merasakan pahit, manis, asam dan lain-lain. Aku tidak bisa mengunyah dan kesulitan menelan. Aku mulai makan makanan lembek  yang diblender dan diencerkan agar mudah ditelan. Bubur nasi yang dibuat beberapa hari yang lalu telah diencerkan dengan ditambah air dan dimasak kembali, tapi tetap tak kusentuh juga. Aku lebih memilih jus buah-buahan dan sayuran. Setiap hari berganti-ganti bergantung  yang dijumpai di pasar, tomat, wortel, kol, bit, alpukat, kadangkala buah naga. Pokoknya yang lembut dan tidak perlu mengunyah. Makan kue dan bubur sumsum  yang lembut terasa sangat menyakitkan.

Lidahku tidak bisa digerakkan karena terhalang rasa sakit. Aku tidak bisa membersihkan sisa makanan yang tertinggal di mulut dengan menggunakan lidah, alternatifnya aku berkumur-kumur. Sikat gigi hanya bisa untuk membersihkan gigi atas dan gigi rahang kiri bawah. Gigi bagian kanan sudah tidak bisa disenggol sikat gigi, berdarah. Jadi aku harus melakukannya dengan hati-hati sekali. Aku pingin ganti dengan sikat gigi yang lembut tapi belum sempat ke mini market karena pulang dari rumah sakit seringkali malam. Mulutku terasa bau, air liurku mulai mengental dan bau kecing. Benjolan tumor di gusi tampak diselimuti warna putih. Mungkin memang begitu efeknya, aku tak tahu apa itu? Pergerakan lidah terbatas, tidak bebas. Menjulurkan lidah terasa sakit. Berbicarapun sedikit pelo dan terasa sakit.  Untuk meredakan rasa sakit aku lebih banyak diam, tidak menggerakkan mulut sama sekali. Rasa sakit sedikit berkurang asalkan aku diam. Tapi tentu aku tidak akan diam tutup mulut terus menerus. Karena diam  berarti aku tidak makan, tidak ada asupan nutrisi untuk memberi tenaga bagi tubuh, akibatnya bisa jadi lemas. Semoga aku dikuatkan dan dilancarkan menghadapi hari-hari yang berat ini. Allahumma yasir wa laa tuassir. (imt)

Advertisements

Mengawali hari-hari di Sankop, verifikasi


Dua hari sebelumnya aku kembali menelpon ke bagian radioterapi rumah sakit, menanyakan mulainya jadwal  radioterapiku. Setelah menanyakan namaku dan dokter yang menangani, suster bersuara ramah itu menjawab pertanyaanku dari ujung telpon,” Ibu bisa mulai hari Kamis tanggal 4 bu. Ibu bisa kan, ibu tinggal dimana?” “Di Bandung, jawabku. Tentu saja aku bisa, karena sakitku ini memerlukan tindakan segera. Nodulnya membesar dan mendesak ke gigi sehingga  gigi terasa goyang.  Rasanya juga nyeri berdenyut-denyut. Sejak simulasi di pertengahan Desember (tanggal 15), sudah berlalu hari lebih dari dua minggu aku menunggu. Beberapa kali aku hubungi dokter menceritakan kondisiku. Whatsappku cuma dibuka, dibaca, itupun setelah beberapa hari, tapi tak ada yang dibalas….haha. Tapi aku yakin dokter peduli ke pasiennya kok. Beberapa kali aku telpon ke perawat di bagian radioterapi. Dijawab, ibu dapat jadwal di minggu kedua bulan Januari, sekitar tanggal 9-13. Minggu berikutnya aku telpon lagi, masih menanyakan hal yang sama, dijawab dapat jadwal di sekitar tanggal 8-9 Januari. Sudah lebih maju kepastian tanggalnya. Dan awal tahun baru 2018 kembali telpon dan dijawab bisa mulai lusa.

Ada sensasi di tubuhku mengetahui sudah mulai diradioterapi. Harap-harap cemas. Ingin segala sesuatunya berjalan lancar, dengan efek seminimal mungkin. Aku punya adik ipar namanya Ina, ia bekerja sebagai guru di sebuah madrasah tsanawiyah di dekat rumah sakit. Aku minta tolong didaftarkan olehnya. Pendaftaran pasien buka dari jam 8 pagi hingga pukul 14.30 sore. Suster yang kutelpon kemarin lusa mengatakan untuk amannya datang saja jangan lebih dari jam 2 siang. Ina mendaftarkanku pas jam istirahat sekolah. Aku dapat nomor urutan 57 untuk pasien BPJS. Untuk hari pertama atau tahapan verifikasi nomor besar atau kecil tidak ada pengaruhnya karena pasien akan dilakukan tindakan paling akhir, setelah semua pasien yang diradiasi sudah selesai. Itu juga yang diinfokan oleh rekan-rekan pasien dan suster di ujung gagang telpon. “Nanti ibu mendapat giliran terakhir setelah semua pasien sinar selesai. Tindakan dilakukan diatas jam empat sore. Ibu sudah siap disini jam 4.” Inapun menginfokan hal yang sama.

Berhubung ini hari pertama, jadi belum tahu situasi, untuk mengantisipasi macet di jalan kami berangkat pukul dua sore. Sebelum pukul  empat kami sudah ada di ruang tunggu radioterapi. Perawat lalu mengambil tekanan darahku. Aku katakan bahwa aku akan verifikasi.  Perawat bertanya dan menginfokan beberapa hal. “Nanti ibu terakhir, setelah pasien sinar habis”. “Ibu dijadwalkan oleh dokter berapa kali sinar”? “Full”, jawabku.  Full itu maksudnya dijadwalkan sampai tuntas lebih dari 30 kali. Aku diberi kesempatan 35 kali, tapi biasanya 33 kali sudah tuntas. “Itu nanti setiap setelah 10 kali ibu ada konsul  ke dokter dan cek lab”. “Kalau pas konsul  radiasinya istirahat dulu atau lanjut?” tanyaku. “Tetap lanjut bu”, jawab perawat.

Bangku-bangku di bawah hampir penuh terisi. Ada satu dua yang kosong tapi aku malas mengisi bangku kosong itu karena letaknya di belakang.  Sementara, cukup lama juga kami harus menunggu, ada sekitar dua jam.  Selama menunggu, untuk menghindari kebosanan dan rasa jemu dan tidak ada bangku, aku naik ke lantai atas. Di lantai atas ada deretan bangku kosong bekas pasien yang mendaftar di pagi hari. Tidak ada siapa-siapa di sana, cuma ada suster yang melayani pendaftaran, masih menunggu jam pulang kerja. Aku tiduran di deretan bangku kosong di dekatnya ditemani suamiku. Tapi tetap saja aku bolak balik naik turun mengecek nomor. Ternyata diantara nomor-nomor itu disisipkan  pasien radioterapi kategori umum. Pantesan kok majunya lambat pikirku, nomornya baru dipanggil seorang dua. Karena perkiraanku kalau setiap pasien perlu waktu 10 menit maka dapat diperkirakan waktu tunggu.

Ruang tunggu kian sepi. Kembali aku bertanya, “Giliranku masih berapa orang lagi?” Dijawab suster ,”Enam orang”. Masih ada waktu satu jam pikirku.,“Aku mau makan dulu”. Setelah memberi tahu suster kalau aku mau keluar, mau ke kantin, akupun berjalan cepat menuju kantin rumah sakit yang belum aku tahu dimana lokasinya. Aku naik ke atas ke lantai dua  ruang pendaftaran pasien. Tidak ada, hanya ada kios kecil yang menjual keripik dan roti. Setelah celingak celinguk, penjaganya tak kunjung muncul, mungkin sudah pulang karena hari sudah sore, akupun beringkut pindah. Turun kembali ke lantai bawah. Berjumpa petugas kebersihan aku bertanya  dan ditunjukkan arah “front office” rumah sakit, yang selama ini tidak pernah aku lalui. Aku isi perutku….sebelum verifikasi.

Di ruang radiasi aku tidur telentang di meja yang bisa digeser. Sehelai  selimut berwarna coklat muda menutupi tubuhku untuk sekedar mengatasi dari dingin ruang ber-ac itu. Masker plastik berlubang-lubang ditekankan secara ketat ke mukaku. Mukaku digencet, dipaskan agar tidak terlalu menekan. Maker ini gunakanya untuk menjaga agar posisi kepala tetap pada tempatnya, tidak berubah, agar tembakan sinar radiokatif hanya mengenai bagian-bagian yang ada kankernya dan tidak meleset ke bagian tubuh yang sehat. Tidak lama berada disana, hanya beberapa menit saja. Radioterapi baru mulai besok hari. (imt)

 

Mulai kenal bu Ikoh Hayati….


Hari keenam radioterapi. Hari Jum’at 12 Januari 2018. Tepat di depan pintu masuk gedung Cancer Centre aku diturunkan.  Jam di ponsel menunjukkan beberapa menit lebih sedikit dari pukul setengah lima sore. Aku segera bergegas masuk, masih enerjik. Kumasukkan kartu pasien radioterapi ke dalam keranjang plastik lalu menuju meja suster yang masih duduk menunggu pasien yang datang sore.  Kududuk di kursi kosong di samping meja lalu kuberikan lenganku ke suster, siap untuk ditensi. “Sembilan puluh per lima puluh,”kata suster. Aku kaget, hahhhh, kok sedemikian rendah. Pantas saja tubuhku merasa tidak enak, kedua tangan terasa dingin, tapi tidak merasakan pusing sama sekali. “Bagaimana ya sus untuk menaikkan tensi?”, tanyaku kepada suster. “Istirahat saja yang cukup bu, mungkin ibu kurang istirahat”, jawabnya.  Padahal aku merasa istirahat melulu….hehehe, mungkin tidurnya kurang banyak.

Suasana di ruang tunggu sudah mulai sepi, tertinggal 7 pasien yang masih setia menunggu panggilan. “Saya masih tunggu berapa orang lagi suster?’, tanyaku. Susterpun melihat ke buku kecil panjang berisi daftar pasien radioterapi untuk hari itu. “Empat orang lagi bu,” jawabnya. Berarti aku tidak perlu menunggu lama. Lalu aku menuju ke bangku kosong yang tersedia. Ada  bu Poppy masih menunggu giliran ditemani suaminya. Setelah bu Lina wisuda, sekarang hanya bu Poppy yang kukenal, yang sering ngobrol karena selalu bertemu kalau sore. Ada lagi seorang ibu yang sebagian wajahnya ditutup kain, menutupi sebagian batang hidungnya. Aku belum kenal tapi beberapa kali bertemu dan wajahnya menyita perhatianku.

Beberapa hari sebelumnya aku sudah sering melihat ibu berpenutup muka itu.  Terus terang aku ngeri melihat wajahnya. Melihat benjolan di rahangku sendiri saja aku ngeri apalagi melihat sakitnya orang lain. Dalam hati aku berkata,”Ibu ini tampaknya ada tumor di hidungnya,” Bentuk wajah di area hidung tidak seperti umumnya hidung apalagi tertutup kain, tidak jelas seperti apa bentuknya. Ibu tersebut terkadang mengajakku tersenyum, akupun balas senyum sedikit. Cuma sebatas itu. Aku masih takut menatap wajahnya apalagi ngobrol dengannya. Aku takut ini mempengaruhi mentalku. Biasanya aku cari tempat duduk yang tidak dekat dengannya biar tidak ngobrol. Tapi sore ini aku duduk dekat dengannya, ia duduk di bangku di depanku.

Ada seorang wanita muda usia paruh baya bersamanya, yang menemaninya, mengantarnya. Aku tanya, “Ini ibunya ya teh?” tanyaku sambil menunjuk ke ibu yang duduk di depannya. “Iya”, jawabnya. ”Siapa nama ibu?” lanjutku bertanya. “Ikoh Hayati”, jawabnya. Sementara dia sendiri aku tak tanya namanya…hehe, sebut saja putri bu Ikoh. Mereka datang dari Banjaran. Jauh juga ya. Akupun lanjut tanya, “Ibu sakit apa?”. Putri bu Ikohpun lantas lancar menceritakan sakit ibunya. Ada tumor di hidung tapi sudah dioperasi. Operasinya di sebuah rumah sakit di daerah selatan Bandung, katanya sambil menyebut nama sebuah rumah sakit. Sekarang melanjutkan untuk radioterapi agar pengobatannya tuntas tas.  “Oh jadi itu tumornya sudah tidak ada?, aku mengulangi untuk meyakinkan. Karena kalau melihat tonjolan di hidung tampak seperti ada tumor. “Sudah nggak ada”, jawabnya

Jadi ceritanya, bu Ikoh setelah operasi pengangkatan tumor dilakukan tindakan selanjutnya untuk menutup bagian batang hidung yang terbuka. Kulit penutupnya diambilkan dari kulit kening di atas hidung, diiris memanjang hingga ke kulit kepala yang ada rambutnya. Kemudian kulit tersebut dijahitkan ke luka bekas operasi tumor. Bentuknya jadi seperti yang tampak sekarang. “Di bagian kulit yang berasal dari kulit kelapa suka tumbuh rambut. Suka saya cukur”, kata putri bu Ikoh menceritakan tentang ibunya. “Oh walaupun tempatnya bukan di kepala tapi rambutnya tetap tumbuh?” tanyaku. “Iya, tetap tumbuh”jawabnya. Tapi  area kulit berambut tersebut tak nampak karena tertutup kain. Serasa ada sensasi di tubuhku, merinding gimana gitu, ingat juga ke sakitku yang mengerikan. Ya Allah sembuhkan dan sehatkanlah kami. Kami sudah berusaha dan tinggal menunggu hasil usaha. Mudahkan dan lancarkan urusan kami, ya Allah, Tuhan Semesta Alam.

Bu Poppy sudah keluar dari ruang radiasi. Bu Ikoh dipanggil masuk. Giliranku semakin dekat. Aku harus siaga pasang telinga, kalau terlewat bisa dapat urutan terakhir. Tinggal aku sendiri pasien yang menunggu giliran di deretan bangku dekat meja kartu pasien. Empat bangku di seberangku, tepat di depan pintu masuk tampak kosong. Di deretan bangku, di pojok lain ruang tunggu masih ada beberapa orang yang duduk, pasien dan pengantarnya. Pasien mungkin tinggal seorang, dua orang. Namaku dipanggil dan aku masuk ke ruang tunggu kamar radiasi. Bu Ikoh keluar dari lorong dingin itu menuju keluar ruangan dan tersenyum, akupun balas tersenyum. Mulai hari ini aku tidak lagi merasa takut melihat bu Ikoh walaupun belum bicara langsung dengannya. (imt)

Bu Lina, saya turut senang


Pukul setengah enam sore mobil hitam meluncur dari halaman sebuah rumah sakit. Hari ini aku pulang masih terbilang sore. Senja hari masih terang. Azan magrib belum berkumandang. Aku pulang dengan perasaan senang, turut merasa riang untuk seseorang. Efeknya, rasa optimisku untuk kesembuhan semakin membumbung. “Yakinlah, kau akan sembuh dan sehat kembali Imti. Yakinlah kepada Allah swt. Tanamkan keyakinan itu, programkan di dalam alam bawah sadarmu.”

Ini hari kelima aku disinar. Pukul setengah lima sore baru kami sampai di rumah sakit. Ini termasuk lebih lambat dari hari-hari sebelumnya. Pasien sinar hanya tinggal beberapa orang. Suster penjaga masih bertugas. Hingga pukul lima sore jam kerjanya. Kubergegas menuju meja suster. Seperti biasa minta dicek tekanan darah, sekalian tanya nomor berapa yang sudah ditangani. “Ibu tidak usah tanya nomor, nanti tunggu saja dipanggil”, jawabnya. Mungkin karena pasien tinggal sedikit dan juga sebagian yang nomornya sudah dipanggil orangnya belum datang. Setelah ditensi, kutanya, “Berapa suster?” “Seratus pertujuh puluh, biasa kan bu segitu?” jawabnya. Yah lumayanlah, diastole naik sepuluh, kemarin cuma 60. Kedua tanganku rasanya dingin seperti es. Punggngku terasa pegal, ditambah lagi rasa sakit yang lain-lain, efek dari sinar dan juga nyeri tumor melanoma di mulut ini.

Kumencari bangku kosong untuk duduk. Tepat di depan pintu masuk ada sederet 4 bangku kosong. Aku duduk disana. Aku senang duduk disini karena biasanya ada hembusan angin dari luar ruangan, tapi sore ini tak ada. Tak lupa aku melempar senyum sambil mengangguk, menyapa pasien-pasien lain yang duduk di kelompok bangku di seberangku. Beberapa ibu-ibu sedang menunggu antrian sambil menonton siaran dangdut dari sebuah stasiun televisi. Tampak seorang bapak berbadan tinggi besar di antara ibu-ibu, suaminya bu Poppy. Demi melihatku dan suami ia tersenyum. Kamipun balas senyum sambil mengangguk kecil.

Aku mencari-cari sosok seseorang tapi tidak melihatnya. “Pi, itu suaminya bu Poppy ada tapi bu Poppy kok tidak kelihatan, apa mungkin sudah di dalam ya?” tanyaku pada suami. Perkiraan kami bu Poppy sudah di ruang sinar. Pagi ini ketika mendaftar, aku bertemu dengan suami bu Poppy. Aku dapat kartu no 52 dan suami bu Poppy nomor 53. Tampaknya sore ini aku datang terlambat, namaku sudah dpanggil sehingga bu Poppy yang urutannya di belakangku menerima tindakan sinar lebih dulu. Peraturannya, kalau dipanggil tidak ada maka gilirannya akan dilewat hingga 5 orang. Dengan sabar aku menunggu, menunggu 5 orang bukanlah waktu yang lama.

Menjelang pukul 5 sore. Ketika aku sedang menunggu giliran, datang bu Herlina didampingi oleh suaminya. Berbarengan aku dan suami bergumam, “Tumben bu Lina baru datang, biasanya kalau kami datang dia sudah duduk manis menunggu”. Aku tahu dari daftar urutan pasien, urutan bu Lina ada 4 atau 5 nomor di atasku. Jika untuk pasien sinar aku urutan ke 37, bu Lina di sekitar urutan 34 atau 35. Berarti diapun sudah dipanggil tapi tidak ada. Perkiraanku -jika mengingat ucapan suster ‘tidak usah tanya nomor’-….. aku akan dipanggil terlebih dahulu, tapi jika tetap ikut aturan dan sesuai nomor urut ya tidak apa-apa, krn nomor kami berdekatan. Ternyata benar, aku dipanggil terlebih dulu. Oh ya… bu Poppy sudah keluar dari ruang tindakan dan sudah pulang.

Seperti biasa, diruang tindakan hanya perlu waktu beberapa menit saja. Setelah selesai dan merapikan kerudung, aku mengucapkan terima kasih untuk suster, lalu aku menyusuri lorong dingin itu menuju ke ruang monitor. Di ruang monitor bu Herlina sudah menunggu. Setelah mengucap terima kasih ke perawat yang jaga aku lanjut berjalan menuju ke luar. Aku senyum ke bu Lina, dan dia pun beranjak dari kursi jok tempatnya duduk. Di depan lorong masuk ke ruang sinar kami berpapasan, ia menyalamiku sambil mengatakan, “Hari ini saya terakhir”. “Syukur bu, alhamdulillah, ucapku turut senang”. “Sehat terus bu” ucapku sambil melepas jabat tangan dan bu Linapun masuk ke ruang sinar. Semangatkupun kian bersinar. (imt)

Bu Herlina, teman ngobrol pertamaku


Enam sore aku selalu bertemu dengannya.  Nomor urutku selalu tidak berjauhan darinya, karena itu kami selalu bertemu. Selidik punya selidik ternyata kami punya kebiasaan yang sama, mendaftar untuk tindakan sinar pada siang atau sore hari setelah  lebih dari separuh pasien mendaftar di pagi hari, sehingga mendapat nomor akhir. Ya.. itu dilakukan untuk menghindari antrian yang lama.  Jika antri siang, pasien pagi semua sudah didaftar jadi kita tinggal datang ke meja suster, serahkan berkas dan tulis nama di buku pendaftaran. Tapi kalau daftar pagi kita mesti ikut antrian nomor, tunggu dipanggil baru daftar. Daftar boleh setiap saat asal sebelum pukul 14.30 sore.

Setiap aku datang sore menjelang tindakan bu Lina selalu sudah ada. Duduk diam di bangkunya. Beberapa kali aku tidak mengenalinya, padahal aku duduk didekatnya. Maklum aku pasien baru belum hapal dengan wajah-wajah pasien semua, meskipun dengan bu Lina sejak hari pertama aku sudah tanya namanya. Tapi dia tidak tanya namaku, hehehehe…. tak apalah, aku kan bukan orang penting. Istilah yang digunakan oleh pasien sinar bagi pasien baru adalah ‘mahasiswa baru Universitas Sankop’.  Kuliahnya cuma dua bulan jika lancar. Meski bu Lina tampak selalu diam, tapi kalau ada yang  menyapa dan ajak bicara, celotehnya lancar mengalir. Tak nampak tanda-tanda lesu atau lemah atau mudah lelah. Padahal ia sedang menahan rasa sakit. Rasa sakit yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang disinar di bagian yang sama dengan dirinya, di bagian mulut.

Bu Lina sering cerita tentang deritanya. Tentang tumor yang tumbuh di lidahnya. Sudah dibiopsi, kata dokter tumor jinak tapi jika dibiarkan bisa menjadi ganas. Dia disarankan untuk disinar. Perjalanannya selama sekitar 20 hari disinar juga mengalami  jatuh bangun akibat efek yang cukup berat dirasakannya. Diselingi dua kali opname akibat ngedrop tidak bisa makan, tidak bisa menelan, sehingga tubuhnya lemah lunglai dan harus diinfus. Cukup lama juga dia opname untuk memulihkan kondisinya, enam hari. Dan biayanya ditanggung BPJS. Selama opname dia istirahat dari sinar. Sebenarnya boleh saja sih diopname dan tetap disinar, tetapi biaya yang ditanggung BPJS harus pilih salah satu, biaya sinar atau biaya rawat inap. Karena itu kuliahnya bu Lina di Univ Sankop lebih lama dari jadwal, karena ada selingan. Berat badannyapun turun drastis, meskipun tidak jadi kurus, tapi malah jadi langsing.

Karena penyakitku juga di bagian mulut, maka aku banyak tanya-tanya detil ke bu Lina. “Gimana sih bu rasa sakitnya akibat efek setelah disinar?”  Aku bertanya agar aku dapat menyiapkan diri. Sejak hari pertama aku bertemu bu Lina aku sudah tanyakan ini. Kebetulan dia duduknya di sebelahku. Dan sebagai pasien baru aku banyak bertanya-tanya. “Mulut rasanya sakit, perih, makan susah nggak bisa nelan” katanya. Dia lantas bercerita semua yang dirasakannya sementara aku antusias bertanya. “Jadi sariawan bu atau ada luka?” tanyaku.  “Enggak, sakit aja, nanti deh setelah sinar kelima baru terasa sakitnya”, katanya sambil membuka mulutnya dan menunjukkan sebagian lidahnya yang memutih serta menunjukkan bagian kulit lehernya yang menghitam. “Air liur jadi kental, sulit diludahkan dan untuk mengeluarkannya harus diambil pakai tisu. Saya habis tisu sekresek buat bersihin air liur”, jelasnya.

Dari dokter aku sudah mendapat penjelasan tentang efek dari sinar (radioterapi atau bestral). “Ibu, karena ibu nanti yang disinar di area leher dan mulut maka efeknya akan berbeda dengan pasien yang menderita kanker payudara. Kalau di payudara hanya daging dan lemak sehingga  efeknya tidak terasa, tetapi ibu di daerah mulut, disana banyak berkumpul syaraf, seperti syaraf pengecap, syaraf ke otak dan lain-lain. Rasa sakitnya akan lebih terasa. Juga nanti kulit yang terkena sinar akan hitam terbakar. Sekitar 10 harian mungkin ibu sudah mulai merasakan. Jika pasien kanker payudara masih bisa mengangkat kepala, mungkin nanti ibu akan tertunduk kuyu,” dokter menjelaskan sambil kepalanya ditundukkan sambil bertopang dagu.

Bu Lina sebenarnya menahan sakit. Jika di rumah dia merasakan itu sendirian. Tapi jika di rumah sakit derita sakitnya sedikit berkurang karena ia bisa bercerita dan merasa tidak sendirian.  Karena respon masing-masing orang terhadap tindakan sinar berbeda-beda makanya aku senang bertanya, dan bu Lina sedang bercerita. “Yah, orang kan beda-beda penerimaannya kalau kita cerita tentang efek sinar. Ada yang bilang tidak usah cerita karena akan menakut-nakuti. Kalau begitu ya saya tidak cerita. Tapi saya cerita juga kan maksudnya biar yang dengar siap.” celotehnya. Dengan bercerita tampaknya bisa mengurangi sedikit rasa sakitnya. Ia sudah tidak sabar menunggu saat wisuda tiba, saat dinyatakan oleh dokter bahwa tindakan penyinaran sudah selesai. Dan itu masih harus menunggu beberapa hari lagi. Saya sih selalu siap bu mendengar celoteh bu Lina, apalagi kita disinar di bagian yang sama walau untuk penyakit yang berbeda. (imt)

Otak kita musuh kita?


Sungguh mengagetkan bahwa musuh terburuk kita adalah diri kita sendiri Riset terbaru menyimpulkan bahwa otak kita dapat menjadi penghalang bagi kesuksesan kita, dan dapat mengelabui diri sendiri.

Penjahatnya, “Dopamin”?

Dopamin adalah senyawa kimia yang menimbulkan rasa senang apabila kita menerima hadiah/penghargaan/pujian. Kita tentu pernah berjanji untuk mulai bangun pagi atau diet menghindari makanan tertentu. Tetapi tidak diitepati. Apa sebanya? Menurut riset dari Universitas Johns Hopkins, ini disebabkan karena sesuatu yang lebih menyenangkan yang terus berputar-putas di otak kita. “Kita tidak menyadari bahwa pengalaman masa lalu membiaskan perhatian kita atas hal-hal tertentu” ungkap Professor Susan M. Courtney dari Department of Psychological and Brain Sciences. Kenangan makanan enak di masa lalu selalu memanggil-manggil karena dopamin di otak kita memelihara kenangan itu untuk selalu ada. Semua kita membutuhkan pengingat akan hal-hal yang menyenangkan di masa lalu, bayangan dalam pikiran ini cukup dalam menyumbang menurunnya kontrol diri. Siklus ketagihan/kecanduan ini sulit untuk dihancurkan, dan semakin ingin dihilangkan otak kita akan semakin terbakar oleh ingatan tersebut. Kita dapat memilih makanan sehat atau tidak menyehatkan, tapi tetap saja kita memilih es krim, gorengan dan makanan tidak menyehatkan lainnya. Apa yang cenderung kita lihat, kita pikirkan, dan kita perhatikan adalah apa yang menyenangkan di masa silam.

Untuk sampai pada kesimpulan, peneliti memainkan suatu game komputer yang melibatkan 20 orang, dengan hadiah kecil sejumlah uang apabila seorang responden mendapatkan objek merah atau hijau pada layar yang diisi dengan banyak sekali objek-objek berwarna. Mereka mendapat $1.50 untuk setiap objek merah yang ditemui dan hanya 25 sen untuk objek hijau. Responden kemudian tidur di atasnya dan esok harinya diminta memainkan game yang lain lagi. Kali ini mereka diminta untuk menemukan bentuk-bentuk tertentu, tanpa mempedulikan ukuran dan warna, dan tanpa hadiah. Menariknya, para peserta lebih memilih membidik objek-objek berwarna merah daripada warna lain. Ketika mereka sedang mengambil bagian dalam riset, peneliti mengambil PET scan mereka dan menemukan bahwa bagian-bagian otak yang berasosiasi dengan apa yang menjadi perhatian mereka, bercahaya oleh dopamine. Dan, mereka yang lebih berfokus pada warna merah dibandingkan lainnya menunjukkan pelepasan level dopamin yang lebih tinggi. “Ada sesuatu mengenai penghargaan dimasa lalu yang masih menyebabkan pembebasan dopamin. Dorongan itu masuk ke dalam sistem reward/hadiah/penghargaan” kata Courtney. Ada variabel yang mempengaruhi ini. Orang yang cenderung ke perilaku kecanduan, atau ke perilaku depresi, akan menunjukkan respon yang berbeda; kelompok pertama umumnya ‘mudah tergoda tetapi merasa riang gembira, sedangkan kelompok kedua cenderung mengabaikan penghargaan/reward. Tim dari John Hopkins meyakini hasil ini memadai untuk mulai memikirkan suatu cara farmasi untuk mengatasi ketidakseimbangan kimia ini. (Imtihanah)

Disarikan, diadaptasi dan diterjemahkan dari: http://csglobe.com/our-brain-sabotages-all-efforts-at-breaking-bad-habits-johns-hopkins-study-finds/, terbit 13 Februari 2016, diakses 14 Februari 2016

Surga turis mancanegara, Pantai Padang-padang, Bali.


Nama pantai ini tidak begitu dikenal oleh wisatawan domestik. Namanya kurang terdengar, kalah tenar dengan Pantai Kuta, Sanur, Nusa Dua, Jimbaran, maupun Seminyak. Tapi ternyata ia merupakan pantai favorit bagi turis asing. Pantai ini juga mendapat julukan Pantai Julia Roberts. Asal usul nama julukan pantai ini mirip-mirip dengan bagaimana pulau di Thailand, Pulau James Bond, mendapatkan nama julukannya, yaitu karena  pantai ini dalam film layar lebar Eat, Pray and Love yang dibintangi oleh Julia Roberts dijadikan sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar. Bahkan jauh sebelum itu, pada tahun 1996, grup musik asal Denmark  ‘Michael Learns to Rocks’ juga melakukan pengambilan gambar disana untuk video klip lagu mereka yang berjudul Someday.

03_DSC04432

Untuk yang kesekian kalinya kami menjejakkan kaki ke pulau dewata, kamipun belum mendengarnya. Hingga suatu hari seorang sopir taksi bercerita, ketika kami tanya objek2 wisata yang  menarik di Bali. Pak sopir bercerita, bagaimana turis asing sangat menyukai pantai ini, menyukai semuanya, mulai dari perjalanan menuju kesana hingga lokasi dan kegiatan apa saja yang dapat mereka lakukan di pantai tersebut. Bahkan karena rasa puas yang bermekaran  membuat para turis asing  menjadi begitu dermawan dalam memberi tip.

“Turis-turis asing menyebutnya surga”, begitu ungkap sang sopir. ‘Bahkan saking senangnya, mereka memberi saya tip dalam jumlah yang melimpah,” lanjutnya

Esok harinya, dalam perjalanan menuju Pura Uluwatu, kami minta pak sopir kendaraan travel untuk singgah di pantai yang dimaksud. Jarak tempuh dari pantai ini dari kota Denpasar adalah sekitar 32 km, tidak lebih dari satu jam perjalanan dengan kendaraan roda empat. Jalan yang dilalui untuk menuju kesana tidak begitu lebar, cukup untuk dua jalur kendaraan yang saling berlawanan arah. Jalan mulus beraspal hitam tidak ramai oleh kendaraan roda empat. Sering dijumpai turis-turis asing berkendara motor sewaan melintas, membawa serta papan surfing. Ada yang datang dari arah Pura Uluwatu maupun dari arah Denpasar (selatan). Jalanan bergelombang naik turun yang kami lalui berada dalam wilayah selatan Bali. Daerah yang dibentuk dari pengendapan batugamping yang kemudian membentuk Formasi Selatan. Pada akhir kala Pliosen, seluruh daerah pengendapan itu muncul di atas permukaan laut.

02_DSC04391

Untuk menuju ke pantai kami harus menuruni undak-undah yang cukup terjal dan jika tidak berhati-hati dapat tergelincir, menyusuri celah sempit yang hanya dapat dilalui satu orang, diantara dinding batu yang tinggi. Serasa memasuki gua. Keberadaan pantai ini sungguh tidak disangka, karena dari jalan yang kami lalui terhalang oleh dinding-dinding bebatuan kapur. Pantai menawan ini seperti harta karun yang tersembunyi yang menawarkan keunikan tersendiri berbeda dari pandai pada umumnya. Semuanya masih tampak alami meski merupakan pantai wisata.

Begitu menginjakkan kaki di pantai pemandangan lebih membuat terpana. Tidak hanya oleh pasir putih dan indahnya pantai dengan deburan ombak ke tebing-tebing karang, tetapi….benar apa yang dikatakan sopir taksi, …’pantai ini menjadi favorit bagi turis asing berkulit putih’. Mereka berjemur di bawah parasol berwarna-warni, bermandi matahari dengan tubuh bertabur pasir pantai. Pantai seolah menjadi lokasi wisata pribadi, bebas berenang, surfing, snorkeling, diving, atau sekedar berjemur. Celetukan seorang kawan,  tampaknya cukup menggambarkan suasana di pantai.

”Wah, serasa di Hawaii”, begitu katanya, sayapun serta merta menyetujui….

Di pantai ini saya memang merasa tidak berada di negeri sendiri, mengingat begitu dominannya turis asing baik dari Eropa dan juga Asia yang datang ke pantai ini. Pada saat saya berkunjung ke sana hanya ada beberapa wisatawan lokal.

01_DSC04386

Pantai yang berada di teluk ini terasa asri dan teduh. Lokasi di teluk, membuat lautnya tampak seperti danau yang indah dan tenang, dengan airnya yang jernih berwarna biru kehijauan. Pasir putih pantai yang lembut dan tebal, laksana kasur empuk dan hangat, nyaman untuk tempat berjemur, bermandikan cahaya matahari. Letaknya yang tersembunyi dari pandangan dan sepi, jauh dari hingar bingar menawarkan privasi bagi pelancong yang berkunjung.(Imtihanah)