Kuingat kata-kata bu Lina di hari-hari awal ngobrol denganku,”Setelah hari kelima mulai terasa sakitnya”. Ada lagi seorang wanita muda yang juga pernah diopname tanya, “Ibu sudah berapa kali?” “Baru mau dua kali,” jawabku. “Nanti kalau sudah empat kali mulai terasa sakitnya”, katanya. Dari dokter dan perawat aku diberitahu bahwa efek radiasi itu akan terasa setelah 10 kali sinar. Aku tampung saja semua info, karena respon tubuh terhadap radiasi dari masing-masing pasien berbeda-beda, bergantung dosis dan daya tahan tubuh. Hingga hari keempat aku masih bisa sarapan soto dan bubur ayam, meskipun mulai sulit mengunyah. Gigi kananku terasa naik, sehingga kalau gigi geraham atas dan gigi bawah bersentuhan, gigi geraham atas dan bawah rahang kiri belum bertemu. Jadi makanan tidak dikunyah sempurna. Itupun aku mengunyah sambil menhan sakit. Aku ingat kata-kata bu Lina,” Selagi masih bisa makan makan yang banyak, karena nanti akan sulit menelan”.
Setiap pagi aku sempatkan mampir di Soto Boyolali, Jalan Trunijoyo untuk sarapan. Cuma soto ini yang membuatku berselera dan aku belum bosan. Rasanya segar, ditambah kucuran jeruk nipis. Karena mengunyah soto semakin terasa menyakitkan dan nasipun tidak bisa dikunyah lembut aku besoknya lalu pindah ke bubur ayam Utem di lapangan Saparua. Makan bubur aku tak perlu banyak mengunyah dan buburnya enak, tapi semua asesorisnya seperti seprihan ayam, potongan cakue, bawang goreng dan potongan daun seledri kutinggalkan, telor hanya kuambil putihnya. Dengan susah payah aku menghabiskan menu pagiku. Kupaksakan untuk mengisi perut, ku berusaha sering makan meskipun dalam porsi kecil. Selera ingin makan selalu ada, rasa ingin makan ada, tapi aku semakin kesulitan mengunyah.
Hari ini aku istirahat radiasi dua hari, karena libur Sabtu, Ahad. Sudah 6 kali aku menjalani radiasi atau sinar. Rasa sakit itu semakin terasa, di bagian yang ada kankernya, di leher dekat pangkal lidah terasa ada benjolan yang membengkak. Di bagian lidah yang hitam juga terasa menyakitkan. Benjolan di gusi juga perih sekali, menggoyang gigi hingga terasa sakit gigi. Rasa sakit hanya di sebelah kanan, tetapi bagian lain rongga mulut juga sudah mulai merasakan efeknya. Aku masih bisa mengecap rasa makanan, merasakan pahit, manis, asam dan lain-lain. Aku tidak bisa mengunyah dan kesulitan menelan. Aku mulai makan makanan lembek yang diblender dan diencerkan agar mudah ditelan. Bubur nasi yang dibuat beberapa hari yang lalu telah diencerkan dengan ditambah air dan dimasak kembali, tapi tetap tak kusentuh juga. Aku lebih memilih jus buah-buahan dan sayuran. Setiap hari berganti-ganti bergantung yang dijumpai di pasar, tomat, wortel, kol, bit, alpukat, kadangkala buah naga. Pokoknya yang lembut dan tidak perlu mengunyah. Makan kue dan bubur sumsum yang lembut terasa sangat menyakitkan.
Lidahku tidak bisa digerakkan karena terhalang rasa sakit. Aku tidak bisa membersihkan sisa makanan yang tertinggal di mulut dengan menggunakan lidah, alternatifnya aku berkumur-kumur. Sikat gigi hanya bisa untuk membersihkan gigi atas dan gigi rahang kiri bawah. Gigi bagian kanan sudah tidak bisa disenggol sikat gigi, berdarah. Jadi aku harus melakukannya dengan hati-hati sekali. Aku pingin ganti dengan sikat gigi yang lembut tapi belum sempat ke mini market karena pulang dari rumah sakit seringkali malam. Mulutku terasa bau, air liurku mulai mengental dan bau kecing. Benjolan tumor di gusi tampak diselimuti warna putih. Mungkin memang begitu efeknya, aku tak tahu apa itu? Pergerakan lidah terbatas, tidak bebas. Menjulurkan lidah terasa sakit. Berbicarapun sedikit pelo dan terasa sakit. Untuk meredakan rasa sakit aku lebih banyak diam, tidak menggerakkan mulut sama sekali. Rasa sakit sedikit berkurang asalkan aku diam. Tapi tentu aku tidak akan diam tutup mulut terus menerus. Karena diam berarti aku tidak makan, tidak ada asupan nutrisi untuk memberi tenaga bagi tubuh, akibatnya bisa jadi lemas. Semoga aku dikuatkan dan dilancarkan menghadapi hari-hari yang berat ini. Allahumma yasir wa laa tuassir. (imt)














