Kilau Putih Pantai Pulau Selayar, Kepulauan Riau


Jika menyebut kata Pulau Selayar pasti banyak yang menduga bahwa itu adalah pulau yang terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Tapi, Pulau Selayar yang kami kunjungi ini adalah pulau kecil yang terletak di Propinsi Kepulauan Riau. Pulau kecil dengan pusat keramaian di kota Penuba, terletak di antara dua pulau, yaitu Pulau Lingga di utara dan Pulau Singkep di selatan. Jalanan pulau masih berupa kerikil yang dikeraskan  dengan jembatan yang hanya kuat menahan beban untuk kendaraan bermotor roda dua.

Memang, sungguh menyenangkan dapat bepergian ke tempat-tempat indah yang bukan lokasi wisata sehingga alamnya masih asli, dengan cara yang unik. Itulah yang kami alami dalam perjalanan kami mencari singkapan batuan granit. Hari itu adalah hari kesekian kami berkeliling Pulau Lingga yang sepi penduduk. Tak banyak singkapan granit yang kami jumpai.  Diputuskan, kami akan menyeberang ke Pulau Selayar  yang kami ketahui dari peta geologi  mempunyai singkapan batu granit di pantai yang dekat ke Pulau Lingga. Kami berencana menyewa perahu pompong, perahu kayu bermesin tempel, untuk menyeberang kesana.  Jalur yang kami lalui bukanlah jalur pelayaran untuk umum. Ibarat masuk rumah kami lewat jalan belakang, melalui dapur, karena kota Penuba terletak lebih dekat ke Pulau Singkep, hanya sepuluh menit dengan perahu pompong.

04_IMG_8075

Putih pantai Pulau Selayar

Setelah dicapai kata sepakat dengan Pak Resun pemilik perahu, ternyata kami tidak dapat langsung berlayar, tetapi harus menunggu air pasang, dan itu berarti menjelang tengah hari. Apa boleh buat. Kamipun menunggu sementara waktu. Matahari kian tinggi, hari menuju terik. Pak Resun mengatakan siap membawa kami  ke Kampung Selayar, Kecamatan Selayar, di Pulau Selayar, ke lokasi granit yang kami cari. Kamipun satu persatu turun ke perahu yang tertambat di tepi sungai, setelah melewati rumah-rumah penduduk yang sebagian besar bermata-pencaharian sebagai nelayan.

Ternyata perahu tak beratap, sementara di atas kepala panas matahari begitu menyengat. Jadilah kardus-kardus kosong bekas menyimpan ikan asin yang ditawarkan oleh Pak Resun tukang perahu kami bawa. Baunya jangan ditanya. Perlahan perahu mulai berjalan perlahan kian lama kian laju, meninggalkan perkampungan, menyusuri Sungai Kelume yang di kiri kanannya dipenuhi oleh tanaman bakau, menuju ke muara sungai. Suara keras dan berisik perahu pompong membuat kami harus berteriak kalau ingin berkomunikasi satu sama lain. Bau solar dan ikan asin dari kardus pelindung kepala dari terik matahari menemani perjalanan kami. Tak ada tempat duduk, kamipun duduk di dasar perahu.

05_IMG_8119

Jernih air laut

Perjalanan terasa menyenangkan, disertai sensasi rasa tegang, terlebih ketika mulai memasuki  perairan laut Selat Lima yang memisahkan Pulau Lingga dan Pulau Selayar. Kami melintasi perkampungan nelayan terpencil, yang hanya bisa dilalui lewat air. Rangkaian pegunungan Pulau Lingga tampak indah dilihat dari laut. Semakin jauh berada di belakang kami tampak semakin indah, dari warna kehijauan berubah menjadi kebiruan. Hanya perahu kami yang ada di lautan. Kami sendirian di lautan luas.

Kami melintasi banyak pulau-pulau kecil yang dibentuk oleh batuan sedimen. Pemandangan yang indah membuat kami tak peduli akan terik mentari. Kamerapun siap mengabadikan alam sekitar. Garis putih memanjang muncul dalam pandangan. Kian lama garis tampak semakin jelas semakin melebar, dengan hiasan pepohonan nyiur. Sungguh memukau pantai Pulau Selayar dipandang dari laut, putih, bersih dan belum terjamah. (Imtihanah)

06_IMG_8090

Pulau Lingga dilihat dari Pulau Selayar

 

Advertisements

Senja Keemasan Pantai Manakarra, Mamuju, Sulawesi Barat


Dari jendela kamar hotel yang berlokasi tepat di tepi pantai kupandangi langit di ufuk barat mulai menjadi jingga. Tak kan kulewatkan jam-jam keemasan ini hanya dengan memandang lewat jendela kamar. Kusambar kamera dan begegas turun ke luar hotel. Matahari masih cukup tinggi. Kuberjalan di sepanjang anjungan pantai. Pantai yang gersang tanpa pepohonan peneduh. Lalu duduk dengan kaki menjuntai di tepi pantai memandang matahari yang mulai condong. Menikmati udara sore yang hangat.

SONY DSC

Bosan duduk, ku berjalan ke bagian lain dari pantai, ke kawasan yang dipenuhi ilalang hijau yang tumbuh tinggi diantara rumah-rumah khas Mamuju yang terbuat dari kayu. Di bagian pantai ini terdapat sederetan gazebo tempat para pelancong duduk lesehan dalam pendar cahaya mentari keemasan seraya menikmati indahnya deburan ombak. Gazebo ini sengaja dibangun menghadap ke laut agar pesona pesisir barat Pulau Sulawesi di kala senja dapat dinikmati.

Itulah sepenggal Pantai Manakarra, pantai reklamasi yang menjadi tempat wisata favorit masyarakat Mamuju ini memang menarik. Pantai yang memanjang sekitar 5 kilometer tampak berkilau di kala senja. Pantai Manakarra merupakan bagian dari Teluk Mamuju dimana disana terdapat Pelabuhan Batu hingga tempat pelelangan ikan, sehingga pantai selalu ramai oleh hilir mudik perahu dan kapal.

SONY DSC

Seperti Pantai Losari di Makassar ataupun pantai di kota Tanjung Pinang ataupun Tanjung Pandan dan kota besar lainnya, selalu menjadi tempat bekumpul masyarakat kota, terutama menjelang matahari terbenam hingga larut malam. Demikian juga Pantai Manakarra betul-betul mempunyai keindahan panorama senja yang mempesona terutama bila matahari bulat bundar tak tertutup awan. Pemandangan nan memikat mata semakin bertambah menawan dengan latar belakang Pulau Karampuang yang terhampar di depan mata. Dan saat cahaya senja mulai menghilang ribuan kelelawar menghitam di langit terbang keluar dari pulau melintasi lautan untuk mulai mencari makan, entah kemana.

Menjelang sore hingga larut malam pantai ini menjadi titik kumpul pelancong lokal, muda-mudi, dewasa maupun keluarga. Para penikmat sunset mulai berdatangan. Penjaja makanan mulai menyusun meja, kursi dan dagangannya di sepanjang pantai. Aktifitas di pantai semakin meriah. Ada yang bermain sepeda, sekedar berjalan-jalan atau duduk-duduk menanti saat mentari jatuh ke peraduan. Para pengunjung datang untuk berekreasi.

SONY DSC

Menjelang gelap perahu-perahu nelayan mulai bermunculan. Mulai berlayar menuju laut lepas untuk mencari ikan. Cahaya temaram lampu perahu tampak menjauh dari pantai.Di malam temaram, warna hitam pantai dihiasi oleh kilatan lampu-lampu berwarna merah dari kapal feri yang akan masuk atau keluar pelabuhan. Hiasan cahaya tersebut terasa indah menemani sambil menikmati kuliner malam berupa jajanan ringan seperti pisang, ubi, kacang goreng, dan jenis gorengan lainnya serta minuman hangat khas daerah, hangatnya kopi atau segarnya buah kelapa yang terhidang di warung-warung sepanjang pantai. (Imtihanah)

Tiga Biru dari Turki


Melancong ke Turki, merasakan betapa negeri ini unik, cantik dan historik. Unik, karena posisi geografisnya yang berada di dua benua, Asia dan Eropa, dihubungkan oleh Selat Bhosporus yang terkenal. Secara letak dan etnis Turki mempunyai akar Asia tapi secara kasat mata tampak sangat Eropa. Cantik, karena proses geologi puluhan juta tahun yang lalu telah mengukir alamnya dan menghasilkan masterpiece yang sangat menakjubkan, fenomena alam yang sulit dicari padanannya dibagian lain dunia,  travertin Istana Kapas Pamukkale dan formasi batuan tufa Cappadocia. Historik, karena sejarah panjang negara Turki telah mewariskan peninggalan arkeologi, seni dan budaya dari sejak peradaban para dewa, Kristen hinggga Islam.

_DSC3089_crop

Masjid Biru

Di perjalanan berjumpa dengan masyarakat yang open-minded, ramah dan bersahabat dengan orang asing. Sebagai pelancong terkadang kita punya rasa ingin tahu yang cukup tinggi, ingin memotret semua yang tidak ada di negeri sendiri seperti memotret aneka hidangan sarapan di hotel ketika orang lain tidak ada yang memotret dan menganggap hidangan sesuatu yang biasa saja. Tak akan ada yang perduli dengan tingkah polah kita bahkan tertarik untuk melirikpun tidak. Mereka tetap asyik dengan urusan masing-masing. Semua sudah sudah mafhum. Jadinya kita merasa nyaman-nyaman saja. Meski tampak tidak peduli tapi mereka ramah. Jika kita berbelanja, seringkali calon pembelanja dipersilahkan untuk menikmati segelas teh hangat khas Turki atau teh beraroma buah-buahan.

_DSC3513_crop

Foto Attaturk, bapak Turki, tarian sufi dan mata biru, tergantung di dinding sebuah restoran

Campur-campur dan kaya warna, itulah gambaran negara Turki. Turki mixed and blend, ketika tarian mistis sufi berada satu panggung dengan goyangan penari perut, ketika para dewa bertemu monotheisme, ketika timur bertemu barat. Seperti aneka ragam corak dan warna lampu hias yang bergantungan di kios-kios di Grand Bazaar. Atau meriahnya dekorasi piring-piring hias dengan aneka warna bunga dan pola nan cantik. Tetapi ada satu warna yang rajin menyelinap dan mendominasi ingatan selama perjalanan. Warna biru. Warna yang menurut tradisi lokal bermakna menyembuhkan, membawa rezeki dan penangkal roh jahat.Apakah itu tentang indah dan birunya pantai Laut Marmara, Laut Hitam, Laut Mediterania dan Laut Aegea? Bukan, ini tentang biru yang lain yang terasosiasi dengan Turki.

25%_DSC3073

Langit-langit masjid biru, berhiaskan keramik dengan dominan warna biru

Masjid Biru (Blue Mosque)

Masjid Biru adalah julukan populer bagi masjid bersejarah di Istanbul yang nama aslinya adalah Masjid Sultan Ahmad. Masjid ini dikenal sebagai Masjid Biru karena warna biru dari keramik yang menghiasi interiornya. Masjid dibangun pada tahun 1609-1616 M semasa penguasa Sultan Ahmad I, hingga sekarang masih kokoh berdiri dan tetap difungsikan sebagai masjid.

SONY DSC

Detail desain keramik Masjid Biru

Mata Biru (Eye of Evil)

Mata biru adalah sejenis azimat yang sudah dikenal sejak zaman Mesir Kuno. Sebuah benda dengan lingkaran biru yang tampak seperti mata. Mata biru dapat dijumpai dimana-mana di Turki, di mobil, di pakaian bayi, di gaun pengantin, perkantoran, tempat usaha, di banyak tempat. Tentu saja mata biru ini tidak ada hubungannya dengan Islam, meskipun mayoritas penduduk Turki adalah muslim.

_DSC4480

Mata biru yang digantung dipepohonan kering di Cappadocia

Batu Biru (Turqoise Blue)

Gemerlap cahaya lampu dan pantulan batu-mulia yang dipajang berpendaran. Kotak-kotak kaca di dinding dan etalase didominasi oleh bebatuan opak berwarna biru hingga biru kehijauan terkadang disertai urat-urat berwarna kecoklatan. Menutup hari dengan berada di bengkel perhiasan batu-mulia yang sekaligus merangkap toko. Berada di ruangan yang hangat di kelilingi aneka perhiasan dan dijamu secangkir teh hangat sangat kontras dengan keadaan di luar ketika kami datang, temaram, dingin dan gerimis.

“Ayo-ayo mari mendekat kemari”, sembari tangannya lincah memamerkan butiran batu pirus.

“Ini turqoise dalam beragam variasi warna dari berbagai area di dunia.

Ini turqoise China, ini turqoise Iran, ini dari Afganistan dan ini yang terakhir dan paling bernilai berasal dari……..

“Seorang teman nyeletuk:” dari Indonesia”. Karena sebelumnya seorang teman lain sempat berujar bahwa batu pirous yang belum diasah banyak dijumpai di NTT.

“Ya, kamu benar…..No, no, no, saya cuma bercanda. Ini berasal dari sini, Cappadocia”.

_DSC4853_crop

Aneka batu pirous

Dari Cappadocia?.. Ah tentu saja tidak benar. Turqoise, yang dalam bahasa Perancis berarti ‘dari Turki’ tidak menunjukkan bahwa batu mulia pirous (turqoise) berasal dari Turki. Bahkan batuan ini tidak ditambang di Turki. Dulu, di era jalan sutera, orang-orang di Eropa mendapatkan batuan tersebut dari para pedagang yang mendapatkannya dari tambang-tambang di Asia Tengah, utamanya Iran, melalui Turki, atau mereka membelinya di pasar-pasar Turki. Karena itu mereka menamai batuan berwarna biru khas ini ‘turqoise’ yang berarti ‘dari Turki’. (Imtihanah)

Tuz Gölü, Turki, pabrik garam alam


Tuz Gölü (Danau Garam) dilewati dalam perjalanan dari Cappadocia menuju Ankara, ibukota Turki. Ini merupakan danau kedua terbesar di Turki, terletak di Anatolia Tengah, 105 km timurlaut Konya, 150 km selatan-tenggara Ankara dan 57 km baratlaut Aksaray. Danau tektonik seluas 1.665 km2 menempati depresi di ketinggian 905 M dpl, airnya disuplai oleh Sungai Melendiz dan beberapa aliran sungai kecil, air tanah, dan air permukaan, tanpa mempunyai aliran sungai yang mengalirkan air danau menuju ke laut. Ketiadaan saluran keluar, serta penguapan air yang berlangsung selama masa yang sangat lama menyebabkan kandungan garam terakumulasi hingga ke level saat ini (32,4%).

a_IMG_2976

Tuz Golu, danau garam

Meskipun mempunyai area yang luas, tetapi danau ini sangat dangkal, rata-rata berkisar dari beberapa sentimeter hingga sekitar 40 cm hampir sepanjang tahun. Selama musim dingin kedalaman danau meningkat hingga 60 cm. Garam-garam berasal dari kandungan batuan yang lapuk. Aliran air membawa serta garam-garam yang larut masuk ke dalam danau dan memperkaya air danau akan natrium dan klorida. Di musim panas, air danau akan menguap dan mengendapkan lapisan garam dalam jumlah yang besar, hingga ketebalan 30 cm di bulan Agustus, dengan kandungan NaCl mencapai 98%. Garam-garam ini ditambang, dibersihkan dan dipasarkan. Tujuh puluh prosen konsumsi garam di Turki berasal dari Tuz Gölü.

a_DSC4893

Tuz Golu, danau gram

Luasnya Tuz Gölü menampakkan hanya warna putih sejauh mata memandang. Dangkalnya air danau memungkinkan untuk berjalan di atasnya. Tetapi hati-hati, tingginya kadar garam dapat merusak sepatu dan kulit kaki. Tanpa disadari ketika menginjakkan kaki di tepian danau ternyata tanah yang diinjak adalah lapisan garam yang bercampur lumpur.

IMG_2980

Kristal garam

Sejak tahun 2001, Tuz Gölü menjadi area yang dilindungi, untuk menghindari terhadap kerusakan akibat polusi industri dan pemakaian air tanah dan air permukaan secara salah. Karena, jika dibiarkan hal ini dapat mengancam nasib danau, serta flora dan fauna yang ada di sekitarnya. (Imtihanah)

a_DSC4889

Kristal garam

 

Kuyang, makhluk jadi-jadian peminum darah


Sosok kuyang

Bagi warga Kalimantan, nama hantu kuyang tentu sudah tidak asing lagi di telinga. Sosok kuyang sangat terkenal di kawasan Borneo ini. Wujud penampakan kuyang sangat menyeramkan. Hanya berupa kepala yang terbang melayang dengan organ tubuh yang terurai. Mungkin gambaran tersebut mirip dengan sosok leak di Bali.

 

Sebenarnya kuyang bukanlah hantu, tapi seseorang yang sedang menekuni ilmu hitam, sehingga dapat mengubah wujudnya menjadi kuyang. Kuyang adalah seorang wanita yang mendalami ilmu hitam agar awet muda dan disayang suami. Agar ilmunya makin matang, ia memangsa darah dan bayi yang akan dilahirkan. Dia mencari mangsa di malam hari dengan cara terbang. Ada pula kisah yang menceritakan jika kuyang hanya mengisap ari-ari janin dan darah pada wanita.

 

Di siang hari kuyang berwujud seperti manusia biasa.Tapi dia mencari mangsa ibu hamil dengan cara pura-pura kenal dan mengelus perut ibu tadi. Jika berhasil memegang perut maka bayi di dalam kandungan akan hilang.

 

Konon, pada wanita yang tengah hamil dan berada di Kalimantan, ia harus tidur dengan menggunakan kelambu agar tidak didatangi kuyang. Sementara itu para gadis, harus membuang pembalut sewaktu datang bulan dengan baik dan benar agar tidak diganggu kuyang.

 

Wanita yang menjadi kuyang di malam hari biasanya memiliki ciri-ciri memiliki goresan di sekeliling leher (seperti tattoo) dan menutupinya dengan memakai selendang. Berdasarkan kepercayaan, kuyang takut pada perabot rumah tangga seperti panci atau wajan. Jika melihat kuyang lalu dipukulkan benda tersebut, kuyang akan segera pergi menjauh.

 

“Dan bahkan di kampung aku, kuyang bukan hanya takut perabot rumah… tetapi juga takut buah labu…, aku malah udah beberapa kali melihat kuyang…” begitu bunyi sebuah komentar di bawah artikel ini di http://www.merdeka.com/gaya/kuyang-makhluk-jadi-jadian-pemangsa-janin.html.

 

Ilmu yang diwariskan

Kuyang adalah ilmu hitam yang selain dapat dipelajari juga harus diwariskan. Si pemilik ilmu ini jika akan meninggal maka dia harus menurunkan ilmunya kepada keturunan yang dipilihnya. Dan siapapun yang terpilih untuk mewarisi ilmu tersebut maka dia tidak dapat menolak, seperti yang dituturkan pada kisah di bawah ini. (disarikan dari http://www.majalah-misteri.net/mariana-tundang-aku-pewaris-ilmu-kuyang-oleh-ki-dadap-tulis/)

 

Biasanya, orang yang mendapat warisan tentu sangat bahagia. Namun, siapa yang dapat bahagia bila mendapat warisan ilmu hitam yang sangat mengerikan. Ya, ilmu hitam yang ditakuti oleh hampir semua orang di pedalaman Kalimantan Tengah, bahkan mungkin di seluruh jagat ini. Apalagi, sang pewaris, tak pernah berharap mengenal, apalagi menguasai ilmu yang sangat jahat itu. Gadis muda nan cantik itu adalah seorang bidan yang bekerja di Rumah Sakit Pemerintah di Banjarmasin dan tinggal di rumah kost. Inilah ceritanya,

 

‘Aku bukan tipe gadis yang suka hura-hura. Aku bukan pengunjung diskotik, gedung bioskop atau mal-mal. Waktuku kuhabiskan di kamar kost untuk membaca. Di kamarku banyak bacaan. Ada novel-novel, majalah, tabloid, dan yang paling sering kubaca adalah kitab suci. Karena dengan membaca kitab suci akan timbul motivasi dalam diriku untuk mengabdikan diri kepada sesama, dan dia juga adalah sumber kekuatanku, sumber pengharapanku yang sebenarnya.

 

Sampai pada suatu hari, datang malapetaka yang membuatku tiba-tiba harus terhempas ke dalam jurang kenistaan. Jangan salah paham. Kenistaan yang menimpaku bukan karena kehilangan kegadisan, bukan ternoda karena perbuatan tercela lain. Yang menimpaku jauh lebih mengerikan. Tidak akan terbayang oleh siapapun yan tidak memahami kondisi pedalaman Kalimantan Tengah, tempat kelahiranku.

 

Hari itu sebenarnya tidaklah begitu panas. Apalagi saat itu hujan baru saja mengguyur kota Banjarmasin. Sangat lebat, dan turun sejak sore tadi. Saat itu hujan belum reda. Tidak begitu lebat, tetapi membuat orang enggan untuk keluar rumah.

 

Tetapi mengapa cuaca yang sejuk itu membuat aku tiba-tiba sangat kehausan. Ya, aku merasa ada rasa haus yang sangat aneh mendera diriku. Telah kuminum beberapa gelas air putih dari dispenser, tetapi rasa hausku tidak juga hilang. Sepertinya, dahagaku bukan karena ingin menenggak air. Ya, Aku ingin minum sesuatu tetapi bukan air. Entah apa?

 

Aku coba mengendalikan diri. Jarum jam telah menunjukkan pukul 14.00. Kebetulan hari ini aku sedang tidak giliran jaga. Besok aku baru masuk pada jam delapan pagi. Entah apa yang mendorongku, aku meninggalkan kamar, dan berjalan menuju ke bangsal rumah sakit. Kutelusuri lorong-lorong yang panjang itu menuju ke suatu tempat yang aku sendiri tidak tahu di mana. Aku berjalan tak ubahnya seperti robot, sebab memang kekuatan laten itu yang mendorongku terus melangkah. Sapaan beberapa orang teman yang berpapasan denganku tidak kujawab. Mereka heran sebab, aku dikenal sebagai gadis yang ramah, mudah bergaul dan tentu saja banyak teman.

 

Aneh, tiba-tiba saja aku berhenti di depan sebuah kamar yang khusus disediakan untuk mereka yang melahirkan. Aku mencium bau yang sangat harum. Bau khas yang belum pernah kurasakan. Bersamaan dengan itu, rasa hausku semakin menjadi-jadi. Ingin rasanya aku segera mereguk minuman yang menebarkan bau harum tadi.

 

Kubuka pintu kamar itu. Kulihat ada seorang wanita yang tengah berjuang keras melaksanakan tugasnya sebagai ibu. Dia ditolong oleh seorang dokter dan dua orang bidan. Entah Iblis apa yang merasukiku. Kudorong dokter itu kesamping, dan kuraih kedua kaki wanita itu. Aku mencium bau yang begitu harum dari sela-sela kedua paha wanita itu. Rasa hausku semakin kuat. Aku hendak mereguk cairan merah bercampur lendir atau air ketuban yang mengalir.

 

Dengan sigap kedua bidan yang ada di kanan dan kiri pasien menubrukku. Sekuat tenaga mereka menyeretku keluar. Namun kekuatan kedua orang itu tidak mampu menyamai kekuatanku. Mereka kubuat terpental. Lalu, muncul tiga orang perawat laki-laki yang membantu kedua bidan untuk menyeretku.Tetapi tetap saja mereka tidak mampu menandingi kekuatanku.

Melihat keadaan itu, salah seorang bidan lalu melepaskanku. Dengan tergesa-gesa dia mencopot kalung yang tergantung di lehernya. Kalung perak dengan leontin salib itu dikalungkannya ke leherku. Begitu kalung itu tergantung di leherku, aku langsung pingsan.

 

Ketika aku sadar, aku telah berada di tempat tidurku. Beberapa orang kerabat ada di sekelilingku. Tidak ketinggalan uwakku yang tinggal di jalan Veteran, di belakang Rumah Sakit Ulin.

“Untung kau segera mengalungkan kalung itu di lehernya,” kata uwakku kepada bidan yang pada saat kejadian mengalungkan kalung tersebut.

“Entah dari mana aku bisa ingat untuk memakaikan kalungku,” jawab bidan tersebut, sepupuku yang juga seorang bidan di rumah sakit yang sama.

“Untung pula tanda di lehernya belum muncul!” kata pamanku.

“Mengapa kalian semua ada di sini?” tanyaku heran.

“Kau sedang sakit,” jawab seseorang.

“Sakit? Sakit apa? Rasanya aku sehat-sehat saja!” jawabku setengah tidak percaya.

Uwak kemudian menceritakan kepadaku, bahwa aku mewarisi ilmu almarhumah ibuku. Kuyang! Aku bergidik mendengarnya. Sulit dibayangkan kalau aku bisa menjadi kuyang, makhluk pemakan darah.

“Tetapi baru tahap awal,” kata uwakku.

 

Ya, ini karena tanda di leherku belum muncul. Orang yang telah matang menjadi kuyang di lehernya ada tanda lingkar hitam seperti kalung dari tatoo. Yang telah matang ilmunya, kepala orang itu dapat lepas dari tubuhnya berikut isi perutnya. Kepala yang lepas itu terbang mencari mangsa, yaitu perempuan yang baru saja melahirkan untuk diisap darahnya. Biasanya hal itu terjadi di malam hari ketika bulan purnama.

 

Aku sendiri sangat heran. Ibuku tidak pernah menurunkan ilmu itu kepadaku. Itulah sebabnya aku tidak menyadari kalau ilmu mengerikan itu mengeram di dalam diriku. Tahap awal dari ilmu itu adalah perasaan haus yang luar biasa. Sebenarnya rasa haus biasa berbeda dengan rasa haus ingin minum darah. Tetapi aku belum dapat membedakan. Maka ketika rasa haus muncul aku minum air putih berkali-kali. Dan tetap saja rasa haus itu tidak hilang.

 

“Apakah aku bisa terbebas dari ilmu terkutuk ini, wak?” tanyaku kepada uwakku.

“Bisa! Kemauan yang kuat dan usaha yang bersungguh-sungguh akan dapat membebaskanmu dari warisan yang tidak kauinginkan itu,” jawab uwakku.

 

Beberapa hari kemudian uwakku memberiku kalung yang bahannya dari besi putih. Demikian juga liontin yang berbentuk salib terbuat dari besi putih.

“Jangan kaulepaskan kalung ini dalam keadaan bagaimanapun juga. Selain itu, rajin-rajinlah berdoa. Jangan lupa memohon kepada Tuhan agar kau dilepaskan dari ikatan jahat itu,” nasehat uwak.

 

Setelah peristiwa itu aku terpaksa berhenti bekerja dari RSU. Ulin. Untunglah, pacarku bisa mengerti keadaanku. Walaupun dia orang Jawa tetapi memahami betul apa yang sedang terjadi atas diriku. Demikian juga para dokter, perawat, bidan serta pegawai lainnya.

Kini aku hidup bahagia bersama suamiku dan tinggal di Jawa. Kenangan buruk itu telah sirna. Dan ilmu warisan itu tidak menguasaiku lagi. Sekarang aku bekerja sebagai bidan lagi di sebuah rumah sakit swasta. Untunglah tidak ada yang tahu masa laluku.’

 

Catatan: Penggunaan besi sebagai penangkal hal-hal gaib telah banyak diketahui/dipercayai. Misal: agar tidak diganggu kuntilanak, wanita yang sedang hamil disarankan membawa gunting. (Secara ilmiah bagaimana penjelasannya?)