Surga turis mancanegara, Pantai Padang-padang, Bali.


Nama pantai ini tidak begitu dikenal oleh wisatawan domestik. Namanya kurang terdengar, kalah tenar dengan Pantai Kuta, Sanur, Nusa Dua, Jimbaran, maupun Seminyak. Tapi ternyata ia merupakan pantai favorit bagi turis asing. Pantai ini juga mendapat julukan Pantai Julia Roberts. Asal usul nama julukan pantai ini mirip-mirip dengan bagaimana pulau di Thailand, Pulau James Bond, mendapatkan nama julukannya, yaitu karena  pantai ini dalam film layar lebar Eat, Pray and Love yang dibintangi oleh Julia Roberts dijadikan sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar. Bahkan jauh sebelum itu, pada tahun 1996, grup musik asal Denmark  ‘Michael Learns to Rocks’ juga melakukan pengambilan gambar disana untuk video klip lagu mereka yang berjudul Someday.

03_DSC04432

Untuk yang kesekian kalinya kami menjejakkan kaki ke pulau dewata, kamipun belum mendengarnya. Hingga suatu hari seorang sopir taksi bercerita, ketika kami tanya objek2 wisata yang  menarik di Bali. Pak sopir bercerita, bagaimana turis asing sangat menyukai pantai ini, menyukai semuanya, mulai dari perjalanan menuju kesana hingga lokasi dan kegiatan apa saja yang dapat mereka lakukan di pantai tersebut. Bahkan karena rasa puas yang bermekaran  membuat para turis asing  menjadi begitu dermawan dalam memberi tip.

“Turis-turis asing menyebutnya surga”, begitu ungkap sang sopir. ‘Bahkan saking senangnya, mereka memberi saya tip dalam jumlah yang melimpah,” lanjutnya

Esok harinya, dalam perjalanan menuju Pura Uluwatu, kami minta pak sopir kendaraan travel untuk singgah di pantai yang dimaksud. Jarak tempuh dari pantai ini dari kota Denpasar adalah sekitar 32 km, tidak lebih dari satu jam perjalanan dengan kendaraan roda empat. Jalan yang dilalui untuk menuju kesana tidak begitu lebar, cukup untuk dua jalur kendaraan yang saling berlawanan arah. Jalan mulus beraspal hitam tidak ramai oleh kendaraan roda empat. Sering dijumpai turis-turis asing berkendara motor sewaan melintas, membawa serta papan surfing. Ada yang datang dari arah Pura Uluwatu maupun dari arah Denpasar (selatan). Jalanan bergelombang naik turun yang kami lalui berada dalam wilayah selatan Bali. Daerah yang dibentuk dari pengendapan batugamping yang kemudian membentuk Formasi Selatan. Pada akhir kala Pliosen, seluruh daerah pengendapan itu muncul di atas permukaan laut.

02_DSC04391

Untuk menuju ke pantai kami harus menuruni undak-undah yang cukup terjal dan jika tidak berhati-hati dapat tergelincir, menyusuri celah sempit yang hanya dapat dilalui satu orang, diantara dinding batu yang tinggi. Serasa memasuki gua. Keberadaan pantai ini sungguh tidak disangka, karena dari jalan yang kami lalui terhalang oleh dinding-dinding bebatuan kapur. Pantai menawan ini seperti harta karun yang tersembunyi yang menawarkan keunikan tersendiri berbeda dari pandai pada umumnya. Semuanya masih tampak alami meski merupakan pantai wisata.

Begitu menginjakkan kaki di pantai pemandangan lebih membuat terpana. Tidak hanya oleh pasir putih dan indahnya pantai dengan deburan ombak ke tebing-tebing karang, tetapi….benar apa yang dikatakan sopir taksi, …’pantai ini menjadi favorit bagi turis asing berkulit putih’. Mereka berjemur di bawah parasol berwarna-warni, bermandi matahari dengan tubuh bertabur pasir pantai. Pantai seolah menjadi lokasi wisata pribadi, bebas berenang, surfing, snorkeling, diving, atau sekedar berjemur. Celetukan seorang kawan,  tampaknya cukup menggambarkan suasana di pantai.

”Wah, serasa di Hawaii”, begitu katanya, sayapun serta merta menyetujui….

Di pantai ini saya memang merasa tidak berada di negeri sendiri, mengingat begitu dominannya turis asing baik dari Eropa dan juga Asia yang datang ke pantai ini. Pada saat saya berkunjung ke sana hanya ada beberapa wisatawan lokal.

01_DSC04386

Pantai yang berada di teluk ini terasa asri dan teduh. Lokasi di teluk, membuat lautnya tampak seperti danau yang indah dan tenang, dengan airnya yang jernih berwarna biru kehijauan. Pasir putih pantai yang lembut dan tebal, laksana kasur empuk dan hangat, nyaman untuk tempat berjemur, bermandikan cahaya matahari. Letaknya yang tersembunyi dari pandangan dan sepi, jauh dari hingar bingar menawarkan privasi bagi pelancong yang berkunjung.(Imtihanah)

 

Advertisements

Senja Keemasan Pantai Manakarra, Mamuju, Sulawesi Barat


Dari jendela kamar hotel yang berlokasi tepat di tepi pantai kupandangi langit di ufuk barat mulai menjadi jingga. Tak kan kulewatkan jam-jam keemasan ini hanya dengan memandang lewat jendela kamar. Kusambar kamera dan begegas turun ke luar hotel. Matahari masih cukup tinggi. Kuberjalan di sepanjang anjungan pantai. Pantai yang gersang tanpa pepohonan peneduh. Lalu duduk dengan kaki menjuntai di tepi pantai memandang matahari yang mulai condong. Menikmati udara sore yang hangat.

SONY DSC

Bosan duduk, ku berjalan ke bagian lain dari pantai, ke kawasan yang dipenuhi ilalang hijau yang tumbuh tinggi diantara rumah-rumah khas Mamuju yang terbuat dari kayu. Di bagian pantai ini terdapat sederetan gazebo tempat para pelancong duduk lesehan dalam pendar cahaya mentari keemasan seraya menikmati indahnya deburan ombak. Gazebo ini sengaja dibangun menghadap ke laut agar pesona pesisir barat Pulau Sulawesi di kala senja dapat dinikmati.

Itulah sepenggal Pantai Manakarra, pantai reklamasi yang menjadi tempat wisata favorit masyarakat Mamuju ini memang menarik. Pantai yang memanjang sekitar 5 kilometer tampak berkilau di kala senja. Pantai Manakarra merupakan bagian dari Teluk Mamuju dimana disana terdapat Pelabuhan Batu hingga tempat pelelangan ikan, sehingga pantai selalu ramai oleh hilir mudik perahu dan kapal.

SONY DSC

Seperti Pantai Losari di Makassar ataupun pantai di kota Tanjung Pinang ataupun Tanjung Pandan dan kota besar lainnya, selalu menjadi tempat bekumpul masyarakat kota, terutama menjelang matahari terbenam hingga larut malam. Demikian juga Pantai Manakarra betul-betul mempunyai keindahan panorama senja yang mempesona terutama bila matahari bulat bundar tak tertutup awan. Pemandangan nan memikat mata semakin bertambah menawan dengan latar belakang Pulau Karampuang yang terhampar di depan mata. Dan saat cahaya senja mulai menghilang ribuan kelelawar menghitam di langit terbang keluar dari pulau melintasi lautan untuk mulai mencari makan, entah kemana.

Menjelang sore hingga larut malam pantai ini menjadi titik kumpul pelancong lokal, muda-mudi, dewasa maupun keluarga. Para penikmat sunset mulai berdatangan. Penjaja makanan mulai menyusun meja, kursi dan dagangannya di sepanjang pantai. Aktifitas di pantai semakin meriah. Ada yang bermain sepeda, sekedar berjalan-jalan atau duduk-duduk menanti saat mentari jatuh ke peraduan. Para pengunjung datang untuk berekreasi.

SONY DSC

Menjelang gelap perahu-perahu nelayan mulai bermunculan. Mulai berlayar menuju laut lepas untuk mencari ikan. Cahaya temaram lampu perahu tampak menjauh dari pantai.Di malam temaram, warna hitam pantai dihiasi oleh kilatan lampu-lampu berwarna merah dari kapal feri yang akan masuk atau keluar pelabuhan. Hiasan cahaya tersebut terasa indah menemani sambil menikmati kuliner malam berupa jajanan ringan seperti pisang, ubi, kacang goreng, dan jenis gorengan lainnya serta minuman hangat khas daerah, hangatnya kopi atau segarnya buah kelapa yang terhidang di warung-warung sepanjang pantai. (Imtihanah)

Tiga Biru dari Turki


Melancong ke Turki, merasakan betapa negeri ini unik, cantik dan historik. Unik, karena posisi geografisnya yang berada di dua benua, Asia dan Eropa, dihubungkan oleh Selat Bhosporus yang terkenal. Secara letak dan etnis Turki mempunyai akar Asia tapi secara kasat mata tampak sangat Eropa. Cantik, karena proses geologi puluhan juta tahun yang lalu telah mengukir alamnya dan menghasilkan masterpiece yang sangat menakjubkan, fenomena alam yang sulit dicari padanannya dibagian lain dunia,  travertin Istana Kapas Pamukkale dan formasi batuan tufa Cappadocia. Historik, karena sejarah panjang negara Turki telah mewariskan peninggalan arkeologi, seni dan budaya dari sejak peradaban para dewa, Kristen hinggga Islam.

_DSC3089_crop

Masjid Biru

Di perjalanan berjumpa dengan masyarakat yang open-minded, ramah dan bersahabat dengan orang asing. Sebagai pelancong terkadang kita punya rasa ingin tahu yang cukup tinggi, ingin memotret semua yang tidak ada di negeri sendiri seperti memotret aneka hidangan sarapan di hotel ketika orang lain tidak ada yang memotret dan menganggap hidangan sesuatu yang biasa saja. Tak akan ada yang perduli dengan tingkah polah kita bahkan tertarik untuk melirikpun tidak. Mereka tetap asyik dengan urusan masing-masing. Semua sudah sudah mafhum. Jadinya kita merasa nyaman-nyaman saja. Meski tampak tidak peduli tapi mereka ramah. Jika kita berbelanja, seringkali calon pembelanja dipersilahkan untuk menikmati segelas teh hangat khas Turki atau teh beraroma buah-buahan.

_DSC3513_crop

Foto Attaturk, bapak Turki, tarian sufi dan mata biru, tergantung di dinding sebuah restoran

Campur-campur dan kaya warna, itulah gambaran negara Turki. Turki mixed and blend, ketika tarian mistis sufi berada satu panggung dengan goyangan penari perut, ketika para dewa bertemu monotheisme, ketika timur bertemu barat. Seperti aneka ragam corak dan warna lampu hias yang bergantungan di kios-kios di Grand Bazaar. Atau meriahnya dekorasi piring-piring hias dengan aneka warna bunga dan pola nan cantik. Tetapi ada satu warna yang rajin menyelinap dan mendominasi ingatan selama perjalanan. Warna biru. Warna yang menurut tradisi lokal bermakna menyembuhkan, membawa rezeki dan penangkal roh jahat.Apakah itu tentang indah dan birunya pantai Laut Marmara, Laut Hitam, Laut Mediterania dan Laut Aegea? Bukan, ini tentang biru yang lain yang terasosiasi dengan Turki.

25%_DSC3073

Langit-langit masjid biru, berhiaskan keramik dengan dominan warna biru

Masjid Biru (Blue Mosque)

Masjid Biru adalah julukan populer bagi masjid bersejarah di Istanbul yang nama aslinya adalah Masjid Sultan Ahmad. Masjid ini dikenal sebagai Masjid Biru karena warna biru dari keramik yang menghiasi interiornya. Masjid dibangun pada tahun 1609-1616 M semasa penguasa Sultan Ahmad I, hingga sekarang masih kokoh berdiri dan tetap difungsikan sebagai masjid.

SONY DSC

Detail desain keramik Masjid Biru

Mata Biru (Eye of Evil)

Mata biru adalah sejenis azimat yang sudah dikenal sejak zaman Mesir Kuno. Sebuah benda dengan lingkaran biru yang tampak seperti mata. Mata biru dapat dijumpai dimana-mana di Turki, di mobil, di pakaian bayi, di gaun pengantin, perkantoran, tempat usaha, di banyak tempat. Tentu saja mata biru ini tidak ada hubungannya dengan Islam, meskipun mayoritas penduduk Turki adalah muslim.

_DSC4480

Mata biru yang digantung dipepohonan kering di Cappadocia

Batu Biru (Turqoise Blue)

Gemerlap cahaya lampu dan pantulan batu-mulia yang dipajang berpendaran. Kotak-kotak kaca di dinding dan etalase didominasi oleh bebatuan opak berwarna biru hingga biru kehijauan terkadang disertai urat-urat berwarna kecoklatan. Menutup hari dengan berada di bengkel perhiasan batu-mulia yang sekaligus merangkap toko. Berada di ruangan yang hangat di kelilingi aneka perhiasan dan dijamu secangkir teh hangat sangat kontras dengan keadaan di luar ketika kami datang, temaram, dingin dan gerimis.

“Ayo-ayo mari mendekat kemari”, sembari tangannya lincah memamerkan butiran batu pirus.

“Ini turqoise dalam beragam variasi warna dari berbagai area di dunia.

Ini turqoise China, ini turqoise Iran, ini dari Afganistan dan ini yang terakhir dan paling bernilai berasal dari……..

“Seorang teman nyeletuk:” dari Indonesia”. Karena sebelumnya seorang teman lain sempat berujar bahwa batu pirous yang belum diasah banyak dijumpai di NTT.

“Ya, kamu benar…..No, no, no, saya cuma bercanda. Ini berasal dari sini, Cappadocia”.

_DSC4853_crop

Aneka batu pirous

Dari Cappadocia?.. Ah tentu saja tidak benar. Turqoise, yang dalam bahasa Perancis berarti ‘dari Turki’ tidak menunjukkan bahwa batu mulia pirous (turqoise) berasal dari Turki. Bahkan batuan ini tidak ditambang di Turki. Dulu, di era jalan sutera, orang-orang di Eropa mendapatkan batuan tersebut dari para pedagang yang mendapatkannya dari tambang-tambang di Asia Tengah, utamanya Iran, melalui Turki, atau mereka membelinya di pasar-pasar Turki. Karena itu mereka menamai batuan berwarna biru khas ini ‘turqoise’ yang berarti ‘dari Turki’. (Imtihanah)

Tuz Gölü, Turki, pabrik garam alam


Tuz Gölü (Danau Garam) dilewati dalam perjalanan dari Cappadocia menuju Ankara, ibukota Turki. Ini merupakan danau kedua terbesar di Turki, terletak di Anatolia Tengah, 105 km timurlaut Konya, 150 km selatan-tenggara Ankara dan 57 km baratlaut Aksaray. Danau tektonik seluas 1.665 km2 menempati depresi di ketinggian 905 M dpl, airnya disuplai oleh Sungai Melendiz dan beberapa aliran sungai kecil, air tanah, dan air permukaan, tanpa mempunyai aliran sungai yang mengalirkan air danau menuju ke laut. Ketiadaan saluran keluar, serta penguapan air yang berlangsung selama masa yang sangat lama menyebabkan kandungan garam terakumulasi hingga ke level saat ini (32,4%).

a_IMG_2976

Tuz Golu, danau garam

Meskipun mempunyai area yang luas, tetapi danau ini sangat dangkal, rata-rata berkisar dari beberapa sentimeter hingga sekitar 40 cm hampir sepanjang tahun. Selama musim dingin kedalaman danau meningkat hingga 60 cm. Garam-garam berasal dari kandungan batuan yang lapuk. Aliran air membawa serta garam-garam yang larut masuk ke dalam danau dan memperkaya air danau akan natrium dan klorida. Di musim panas, air danau akan menguap dan mengendapkan lapisan garam dalam jumlah yang besar, hingga ketebalan 30 cm di bulan Agustus, dengan kandungan NaCl mencapai 98%. Garam-garam ini ditambang, dibersihkan dan dipasarkan. Tujuh puluh prosen konsumsi garam di Turki berasal dari Tuz Gölü.

a_DSC4893

Tuz Golu, danau gram

Luasnya Tuz Gölü menampakkan hanya warna putih sejauh mata memandang. Dangkalnya air danau memungkinkan untuk berjalan di atasnya. Tetapi hati-hati, tingginya kadar garam dapat merusak sepatu dan kulit kaki. Tanpa disadari ketika menginjakkan kaki di tepian danau ternyata tanah yang diinjak adalah lapisan garam yang bercampur lumpur.

IMG_2980

Kristal garam

Sejak tahun 2001, Tuz Gölü menjadi area yang dilindungi, untuk menghindari terhadap kerusakan akibat polusi industri dan pemakaian air tanah dan air permukaan secara salah. Karena, jika dibiarkan hal ini dapat mengancam nasib danau, serta flora dan fauna yang ada di sekitarnya. (Imtihanah)

a_DSC4889

Kristal garam

 

Keributan pagi di bonbin Bandung


Di pagi minggu itu, saya sendirian di rumah. Setelah semua pekerjaaan rumah beres kuputuskan untuk jalan-jalan ke Kebon Binatang Bandung. Sudah lama sekali tidak jalan-jalan kesana, sudah lebih dari dua dasa warsa mungkin. Terakhir pada waktu kuliah dulu. Yah begitulah, sesuatu itu kalau ada di dekat kita jadi hal yang biasa saja, kurang diminati.

Dengan berselempangkan kamera saya menuju kesana, cukup dengan mengendarai angkot saja. Murah meriah dan tak perlu direpotkan oleh macet, tinggal duduk manis kan enak. Cukup 3000 rupiah saja sampailah di Bonbin. Suasana masih cukup sepi. Loket juga baru buka.  Saya pengunjung pertama yang mendatangi loket. Melihat saya sudah mendapat tiket, di belakang ramai pengunjung lain mulai mengantri.

Memasuki kompleks bonbin, suasana teduh di bawah pepohonan rindang menyapa. Memang banyak perubahan, terutama dalam hal pengelolaannya, jelas semakin baik dan semakin menyenangkan bagi pengunjung. Toilet umum ada di berbagai sudut kebon binatang. Lahan di bawah pepohonan rindang cocok untuk tempat piknik, membuka bekal yang dibawa dari rumah. Bagi yang tidak membawa bekal ada resto California Fried Chicken dan warung kecil lainnya. Arena bermain bagi anak-anak juga tersedia. Mulai dari ayunan hingga flying fox. Kebersihan cukup terjaga meskipun bau tak sedap tercium disana sini, bau kotoran hewan. Tapi tak mengapa, karena ini adalah bau alam.

Pengunjungpun dapat berinteraksi dengan beberapa jenis. Misalnya dengan ular sanca, burung merak, gajah dan unta. Ular sanca yang jinak, tidak keberatan untuk dipegang, dielus-elus maupun diajak foto bersama. Demikian juga burung merak. Burung merak yang cantik berwarna warni dengan ekor menjuntai layaknya gaun pengantin siap untuk diajak foto bersama layaknya selebritis. Gajah dan unta tunggangan siap untuk membawa pengunjung berkeliling di dalam satu lingkaran kecil. Lumayan untuk merasakan sensasi menunggang hewan-hewan yang cukup tinggi tersebut. Semua tentu dengan imbalan sejumlah uang tertentu. Kalau untuk berfoto dengan burung merak dan ular cukup seikhlasnya saja ke pawangnya.

Pagi itu saya mendengar suara meraung-raung. Ternyata datang dari kandang beruang hitam. Kandangnya sedang dibersihkan dan beruang-beruang yang ada disana sedang terkurung dalam selnya masing-masing. Beruang-beruang yang kelaparan itu menggeram karena melihat potongan-potongan daging yang telah disediakan buat jatah makan pagi mereka. Begitu pintu kandang dibuka, mereka langsung berhamburan menyerbu ke arah tumpukan daging. Tapi alih-alih memakannya mereka justru bermain-main dengan daging tersebut. Digosok-gosokkan ketubuh layaknya potongan sabun. Lucu sekali. Ada juga yang seolah tidak lapar, tidak peduli dengan daging tersebut. Tapi tak berapa lama kemudian mulai berkelahi berebut daging. Suara geramannya terdengar ke antero bonbin. Wah seru banget lihatnya… Tak lama kemudian daging yang tidak segar dan dikerumuni lalat itupun habis tandas. Dan menupun berganti dengan wortel dan sayuran lainnya. Hmmm baru tahu kalau beruang makan sayuran juga.. Setelah itu keadaan kandang kembali tenang.

Di ujung bagian belakang terdengar suara bersahut-sahutan memenuhi atmosfer bonbin. Sayapun kesana, ternyata suara itu berasal dari kompleks primata, suara siamang. Tapi yang paling berwarna warni adalah kompleks burung. Bermacam burung ada disini, mulai dari yang bersuara indah hingga yang berbulu indah. Sayapun banyak mengambil foto disini. Sedangkan dikompleks ular dan hewan buas kurang menarik untuk difoto karena terhalang oleh ruang kaca yang buram dan hewan-hewan tersebut rata-rata malas bergerak.

Berada di bonbin ternyata mengasyikkan. Lama juga lho saya disini, hingga tedengar azan dhuhur. Yang bikin betah adalah banyaknya pepohonan rindang sehingga terik mentari terhalang oleh rimbun dedaunan. Ini adalah salah satu kelebihan bonbin Bandung.—————-########———————

Onrust and Cipir as Hajj Quarantine Villages (1911-1933)


The situation of hajj pilgrimage quarantine on Onrust Island in 1911-1933

Since it was managed by Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) –by the permission of Batavian ruler at that time, Prince Jayakarta- in the early 16 century to the present, the Island of  Onrust has been functioned for different puposes. One of them was –in 1911-1933- this island along with its neighboring island, Cipir, were functioned as Hajj Quarantine Villages by the Dutch Colonial Government.

Two of many old structures remains of hajj pilgrimage facilities on Onrust and Cipir Island

As can be seen today, most of the old structures on the Onrust and Cipir are the remains of the Hajj Quarantine facilities. Then, sea line transportation was flourish since aircrafts has not been developed. Three month sail by ship was the time needed to carry hajj pilgrimages to the Arab Peninsula and another three months to take them back home. Therefore, the hajj pilgrimages were adapted to the sea weather. The departure and arrival of the pilgrimages were regulated here. The remnants of the facilities which can still be seen, among others, are hajj pilgrimage barracks, a medical staff residence, hospitals, registration office, security offices, communal toilets, and bathing facilities. Some of which have been renovated so their existence are quite complete. The doctor residence now functions as a museum for The Archaelogical Park of Onrust Island.

Onrust-Cipir-Kelor for Recreation


This historical, 12 hectare island is located 14 kilometres in the north of Jakarta. Onrust, along with its neighbouring islands, Kelor, Cipir (or Cuyper or Kahyangan) and Bidadari make part of Thousand Archipelagou (Kepulauan Seribu) in the Bay of Jakarta. Administratively the area belongs to South Kepulauan Seribu. The area in 1972 was assigned as preserved historical and in 1999 as cultural heritage reservation sites by the Provincial Government of DKI Jakarta.

Trip to Onrust (the largest of three), usually include visiting Cipir and Kelor Islands, but exclude another neighbouring island, Bidadari, since it is managed by a private company. The islands can be reached by speedboat from Marina Ancol or fisherman boat from Kamal Muara. The wooden boat is the cheapest and adventurous way. To enter these three islands are free of charge. Having been on these islands is amusing, they have pleasant warm atmospheres under the trees’ shades and surrounded by the sea.

Cipir Island was our first stop. It is located very near to Onrust. There was a dock connecting this island to Onrust, its remains can still be seen. Exploring this island was truly amusing. The remaining old structures of the Hajj Pilgrimage Quarantine Hospital found in every corner of the island, brought our imagination back to the first quarter of 19 century, to imagine the life at that time. Many visitors were around, some of them were campers, they did swimming, fishing, barbequeing, cooking, chatting, or just lying on mats. From Cipir, we can see Bidadari Island.

The second stop was Kelor Island, the smallest of three. The outstanding structure is the Martello Tower which can be seen from faraway. A part of the island is made of white corally, and gently slope beach, convenient place for sunbathing, caressed by sea breeze. The island is uninhabitated and therefore has no facilities. Before noon we left Kelor for Onrust.

From midday toward the end of the day we stayed on Onrust. We performed day-prayers and had lunch, played games, explored the land, and took pictures. There are many old structures found, some are remnants, such as the foundations of a windmill and a warehouse, a few are still in good condition, such as medical staff residence and registration office for hajj pilgrimages dated back in 1911-1933. Some sites were built after Indonesia declared its indepence, such as DI/TII executees’ tombs.

The structures which are found on these islands were built at different historical times. Visiting Onrust (and its neighbouring islands) means learns their histories, which are part of Indonesian history. Colonization of Nusantara by the Dutch was started in Onrust (see: History of Onnrust). These islands are good for recreational as well as educational purposes. There are public facilities, such as toilets, rinse rooms and simple coffe shops. Unfortunately, the facilities are still far from satisfaction, unconvenient ones and the water tastes brackish, need to be managed seriously and improved here and there, concerning the healthy and clean environment.

The day was running toward late afternoon when we back to the mainland. The afternoon sun slided to the west, shaded golden colour to the bright blue sky. We were exhausted but happy…   (Imtihanah————)