Keluarga Kerajaan Inggris dalam perangko


Perangko, sekeping kertas kecil yang berfungsi sebagai alat pembayaran bea pos ini pertama kali diperkenalkan di Inggris pada awal abad ke 19. Gambar-gambarnya yang menarik memikat untuk dikoleksi baik oleh anak-anak maupun orang dewasa. Tetapi seiring dengan berkembangnya teknologi, perangko tidak banyak lagi dipakai.

Di bawah ini dapat dilihat koleksi perangko bergambar anggota keluarga kerajaan Inggris seperti, Ratu Elizabeth II, serta anggota keluarga lainnya termasuk juga Lady Diana yang perangkonya paling banyak dicari.

Pernikahan emas Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip

Pada tanggal 20 Nopember 1947 Putri Elizabeth dan suaminya Duke of Edinburgh setelah upacara pernikahan menaiki kereta kaca kerajaan melalui ribuan rakyat Inggris yang mengelu-elukan kembali menuju Istana Buckingham (20p dan 43p).

Limapuluh tahun kemudian Sang Putri yang kini telah menjadi Ratu Elizabeth II bersama suaminya kembali dipotret untuk pembuatan perangko (terbit tanggal 7 Oktober 1997) dalam rangka memperingati ulang tahun perkawinan emas mereka (26p dan 63p).

Pangeran Charles dan Lady Diana


Tanggal 29 Juli 1981 Pangeran Charles, putra mahkota kerajaan Inggris menikah dengan Lady Diana Spencer yang cantik. Seluruh Inggris merayakannya dan hari ini dinyatakan sebagai hari libur nasional. Untuk menyambut hari bahagia ini diterbitkanlah perangko diatas. Selain negara Inggris beberapa negara lain juga menerbitkan perangko bergambar kedua mempelai tersebut seperti Australia dan Siprus.

Pangeran Andrew dan Sarah Ferguson

Di atas ini adalah perangko yang terbit dalam rangka menyambut pernikahan putra kedua Ratu Elizabeth II dari Inggris. Pada tanggal 23 Juli 1986, Pangeran Andrew menikah dengan Sarah Fergusson yang kemudian bergelar Duchess of York, gadis berambut merah dari desa Dummer di Hampshire.

Pangeran Edward dan Sophie Rhys-Jones

Pangeran Edward pertama kali bertemu dengan Sophie tahun 1993 di suatu pertandingan tenis amal. Keduanya mempunyai minat yang sama dalam olahraga seperti berkuda, menembak dan ski, dan juga senang berkarir.

Perangko di atas yang diterbitkan pada tanggal 15 Juni 1999 dimaksudkan untuk merayakan pernikahan putra bungsu Ratu Elizabeth II, Pangeran Edward dengan Sophie Rhys-Jones. Pernikahan berlangsung pada hari Sabtu 19 Juni 1999.

Lady Diana

Kematian Lady Diana secara tragis pada tanggal 31 Agustus 1997 telah membuat rakyat Inggris berkabung. Trotoar di depan 3 istana kerajaan di London tertutup di bawah tumpukan jutaan bunga. Ratusan ribu orang mengantri untuk menandatangani buku belasungkawa. Pesan-pesan simpati membanjir. Jutaan manusia berdiri di sepanjang rute yang dilalui pada upacara pemakaman maupun yang menonton lewat televisi. Perangko diterbitkan beberapa bulan sejak meninggalnya Mawar Inggris ini tepatnya tanggal 3 Pebruari 1998.

Manfaat mengumpulkan perangko antara lain adalah untuk mengenalkan tokoh-tokoh terkenal seperti pada perangko-perangko di atas. Selain itu juga menambah pengetahuan umum lainnya, karena perangko dapat menggambarkan keindahan alam dan budaya, serta merekam peristiwa penting dan bersejarah suatu negara. ————###————-

Advertisements

Diskotik “bemo” kota Kupang


Udara malam tepi laut tetap saja terasa gerah dan membuat berkeringat. Tebaran asap yang memenuhi ruangan membuat mata perih. Kipas angin yang terus berputar terasa tak ada manfaatnya, tidak mampu menyejukkan udara maupun mengusir asap yang terus berproduksi. Kami telah cukup lama menunggu hidangan ikan bakar…ketika seorang teman memberitahu:”Itu suara angkot di Kupang” katanya merujuk ke suara musik yang berdentam yang melintas di jalanan di sisi rumah makan. Suara itu menghentak di suasana malam kota Kupang, sesekali juga terdengar suara honk klakson angkot yang kerasnya hanya kalah satu tingkat saja dengan klakson bis malam.

Merasa tergelitik, esoknya mulai memperhatikan angkot-angkot yang lalu lalang di jalanan tanpa selokan dan gorong-gorong. Disini masyarakat menyebut angkot dengan sebutan bemo (meskipun beroda empat dan bukan tiga seperti umumnya bemo yang kita kenal). Lebih menarik lagi, tubuh angkot dan kacanya dipenuhi dengan lukisan semprot ataupun stiker beragam ukuran dan tulisan, dalam bahasa Indonesia, Inggris dan juga bahasa daerah. Ada stiker yang bertema cinta dengan gambar-gambar komik yang menarik maupun bertema relijius, seperti perjamuan terakhir atau kedua belah telapak tangan yang tertangkup, dengan tokoh utama Jesus, sesuai agama mayoritas masyarakat setempat. Stiker-stiker ini yang tampaknya membedakan angkot Kupang dengan angkot di kota lain seperti Palembang dan Padang yang keduanya juga menyetel musik berdentam, bahkan beberapa angkot Padang juga memasang televisi sebagai bagian dari servisnya.

Akhirnya pingin nyoba juga naik angkot. Dengan tarif dua ribu rupiah sampailah di terminal, yang berada di tepi pantai. Di sepanjang jalan musik house selalu menemani, meskipun berdentam tapi terasa mengasyikkan..karenanya kaki ikut bergoyang. Agak tidak biasa….karena selama beberapa hari di Kupang tak terdengar musik dangdut. Ternyata mereka punya selera musik yang berbeda. Hanya sayangnya pandangan keluar menjadi sangat terbatas karena kaca-kaca dipenuhi stiker. Jika dinding angkot penuh tempelan stiker maka ruang supir penuh boneka yang bergelantungan di kaca depan.

Terminal berada di tepi Pantai Timor. Berdekatan dengan pasar dan pertokoan. Area tidak luas, dan angkot juga berhenti dimana saja, sesukanya. Tapi meskipun begitu tidak menimbulkan kemacetan karena jumlahnya kendaraan yang tidak banyak.

Bagaimana jika naik angkot di malam hari? Tentunya lebih seru. Suasana remang lampu berkedip dan musik house yang berdentam dari pengeras suara menyeruak diantara gelapnya malam menyulap angkot menjadi diskotik “dugem” berjalan. Semakin dorang kasih keras dorang pung musik, penumpang semakin suka.. Kalau musik tidak berdentam penumpang tak mau naik, begitu ceritanya…….. —————————-#######———————

Mengelilingi Madurodam, menjadi Gulliver di negeri liliput


Bila berkeinginan untuk mengelilingi Belanda hanya dalam satu hari, maka berkunjunglah ke Madurodam. Dengan satu lembar tiket kombinasi yang dapat digunakan untuk naik trem, kereta api, bis dan tiket masuk ke lokasi, berangkat dari stasiun manapun di Belanda akan sampai di sana. Madurodam akan memberi gambaran menyeluruh mengenai apa yang dapat di lihat di negara ini dan kemana akan pergi pada hari berikutnya selama liburan di Belanda.

Madurodam adalah suatu taman yang juga merupakan kota miniatur Belanda. Kota miniatur ini merupakan realisasi dari keinginan untuk membantu sesama dan kenangan akan Perang Dunia II. Ide untuk mendirikannya datang dari, Ny. B. Boon-Van der Starp serta Tuan dan Ny. J.M.L. Maduro. Sebagai anggota suatu organisasi sosial, Ny. B.Boon-van der Starp merasa tergerak hatinya untuk menolong para penderita tuberculosis agar dapat terus melanjutkan pendidikan sembari berusaha untuk mendapatkan penyembuhan. Disadari untuk tujuan ini diperlukan dana yang tidak sedikit, ia lantas terinspirasi untuk membangun kota mini yang menghasilkan pemasukan cukup besar untuk dapat mendanai niat sucinya.

Tuan dan Ny. Maduro dari Willemstad, Curacao (koloni Belanda di laut Karibia) punya alasan yang berbeda. Awalnya mereka ingin mendirikan monumen untuk mengenang putra semata wayang mereka, George J. L. Maduro, yang meninggal semasa Perang Dunia II. Setelah bertemu dan berbincang dengan Ny. Boon-Van der Starp, Tuan dan Ny. Maduro lantas memutuskan untuk menyumbangkan sejumlah uang untuk turut serta membangun kota miniatur sebagai ganti mendirikan monumen yang biasa dikenal, demi mengenang kepahlawanan putra mereka.

Kota miniatur ini diresmikan pada 2 July 1952. Diantara model yang dimasukkan pada tahap awal perkembangannya adalah mercusuar Ameland, yang mempunyai tinggi 2,18 m, dibangun pada tahun 1954. Selama lebih dari 50 tahun kota liliput ini dibuka sepanjang tahun untuk umum, karena merupakan salah satu atraksi turis yang paling penting di wilayah Randstad (Belanda barat). Lebih dari 700 model dipamerkan di sini, seperti: kincir angin, puri, jembatan, museum, jaringan kereta api, mercusuar dll. Model-model di rekonstruksi secara detail dengan skala 1:25 dan dikonstruksi dari berbagai bahan, misalnya kayu, bahan sintetik dan kuningan. Semua bangunan, dan objek bergerak lainnya di dekorasi secara cermat dan mendetail hingga mirip dengan aslinya.

Madurodam mencoba menggambarkan bagaimana tipikal kota-kota Belanda berkembang selama abad-abad yang telah dilalui. Ada bagian-bagian tua dari kota dengan model-model yang menunjuk ulang ke zaman medieval (abad pertengahan); dari rumah-rumah khas, jalan-jalan hingga gereja. Juga ada sistem transportasi, seperti jaringan perkeretaapian, jalan raya dan juga bandara Madurodam yang memungkinkan penerbangan ke semua benua.

Sejak 1 April 1996 area kota Madurodam diperluas. Dengan perluasan ini beberapa penambahan dilakukan, antara lain miniatur Jembatan Erasmus di Rotterdam, Penghalang Banjir di Niuewe Waterweg, dan jaringan perkeretaapian, yang diperluas lebih 50% dari sebelumnya. Jaringan kereta api di  Madurodam tidak hanya diam mematung, tetapi sungguh-sungguh berjalan menunjukkan kesibukan seperti pada umumnya jaringan kereta api biasa, dilengkapi dengan stasiun dan jalur-jalur yang ekstensif. Setiap harinya di Madurodam dapat dilihat 12 kereta api yang berbeda berjalan di rel sepanjang 4 km. Suatu miniatur jaringan perkeretaapian terbesar di dunia. Masing-masing kereta api setiap tahunnya berjalan sejauh 20.000 km.

Diantara model yang dapat bergerak ada beberapa model yang hanya akan berjalan jika dimasukkan sejenis koin yang hanya ada di Belanda, dubbeltje. Jika kebetulan tidak punya silahkan menunggu orang lain yang memasukkan dan lihat apa yang terjadi.

Meskipun merupakan kota terkecil di Belanda tetapi aktifitas yang berlangsung di sana lebih banyak dari kehidupan sehari-hari; dalam 1mkota miniatur tampak ratusan pejalan kaki, sementara para pengunjung hanya dapat berjalan beberapa langkah. Berada di kota Madurodam laksana Gulliver di negeri liliput. Dahulunya Madurodam kota yang berdiri sendiri, Ratu Beatrice pernah menjadi walikotanya, tetapi kini menjadi bagian dari Scheveningen.

Atraksi dan hiburan yang ada di Madurodam sangat cocok untuk anak-anak, dimana mereka tampaknya menyukai model berskala kecil, dan model-model yang dioperasikan dengan koin. Walaupun demikian sebagian besar para pengunjung adalah orang dewasa.

————————————————————————————-

Car Boot Sale


Car boot sale adalah istilah yang dipakai oleh orang-orang di Inggris untuk menyebut kegiatan penjualan barang-barang (umumnya rumah tangga) yang menumpuk di loteng ataupun garasi rumah. Mereka mengemasi barang-barang tersebut dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil (boot/trunk) dan bersiap-siap untuk menjualnya. Ini merupakan suatu cara yang bagus untuk mengosongkan garasi atau loteng mereka dan menukarnya dengan sejumlah uang. Car boot sale mirip dengan pasar loak di Indonesia, hanya bedanya jika pasar loak menempati lokasi yang tetap dan di buka secara rutin (setiap hari), maka lokasi car boot sale dapat saja berpindah-pindah dan tidak setiap hari ada. Di negara lain di Eropa seperti Jerman dan Belanda pasar seperti ini juga ditemukan dengan nama yang berbeda (flohmarkt di Jerman dan …… di Belanda).

Car boot sale dapat diadakan di berbagai macam tempat, biasanya lapangan terbuka, halaman sekolah, tempat parkir yang bertingkat, atau juga di sekitar pasar, bergantung lingkungan kehidupan di sana, pedesaan atau kota, pada hari dan bulan yang telah ditentukan.  Kegiatan ini dapat saja diiklankan lewat majalah atau koran lokal, atau juga melalui selebaran yang ditempel di area sekitar.  Sebagian merupakan kegiatan yang boleh dikata rutin, diadakan setiap hari Minggu, yang lainnya hanya di lakukan kadang kala. Car boot sale merupakan cara yang menyenangkan bagi banyak orang untuk menjual barang-barang rumah tangga yang sudah tidak dibutuhkan, tetapi mungkin diperlukan oleh orang lain. Suatu cara yang efektif untuk mendaur ulang benda-benda yang sudah tidak diperlukan. Di sini penduduk sekitar dapat saling bersosialisasi dan  mendapatkan barang-barang yang mereka perlukan dengan harga yang murah, karena pada umumnya barang yang dijual disini masih dalam kondisi baik. Banyak orang menyukai atmosfer car boot sale, sehingga juga menjadikannya kegiatan yang bersifat rekreasi.

Bagi mereka yang ingin mengambil bagian dalam car boot sale ini, diharuskan membayar sejumlah kecil bea keikutsertaan. Di area car boot sale, mobil-mobil diparkir dengan pintu bagasi yang dipenuhi dengan barang-barang yang bisa jadi milik teman atau famili atau milik sendiri dalam keadaan terbuka. Bila barang terlalu banyak bisa dibantu dengan meja lipat atau apa saja untuk menaruh barang dagangan. Bagi para pembeli terkadang (tidak selalu) juga diminta bea masuk sekitar 20p atau 50p (pence) sebagai sumbangan. Segala macam barang dijual disini, mebel tua, pakaian bekas, buku-buku, peralatan listrik, dan bahkan produk kebun mereka sendiri seperti bunga, sayuran dan tanaman lainnya.

Yang menyenangkan dari car boot sale antara lain adalah kita tidak memerlukan banyak uang untuk membuat waktu yang kita habiskan disini berharga. Bagi kolektor benda-benda antik atau unik, car boot sale menyediakan benda-benda menarik untuk dikoleksi dengan harga yang relatif tidak mahal. Harus cukup sabar dan awas mengamati dan mencari diantara tumpukan benda yang tidak menarik, apa yang diinginkan. Selain itu datang awal juga merupakan cara untuk mendapatkan barang yang ditawarkan sebelum diambil orang lain.

Di car boot sale tidak menerima pembayaran dengan kartu, dan juga mereka tidak menyediakan uang kembalian dalam jumlah besar, karena itu para pembeli harus membawa banyak uang tunai dalam pecahan kecil. Waktu terbaik melihat car boot sale adalah pada musim semi ketika cuaca cerah, pada musim dingin yang cenderung selalu mendung terkadang diperlukan senter untuk melihat benda yang ditawarkan.  Surprise surprise. Siapa tahu anda akan cukup beruntung menemukan suatu harta karun.

————————–

Bertemu Lady Diana di Madame Tussaud’s Museum


Di London ada suatu tempat dimana kita dapat berjumpa dengan para pesohor dunia, bai dari masa lalu maupun kini. Tepatnya di jalan Marylebone, ada satu museum yang sangat terkenal di dunia, namanya Madame Tussaud’s. Koleksi museum yang di London ini merupakan yang terlengkap dibandingkan Museum Madame Tussaud’s lain seperti yang di Amsterdam, Belanda, maupun di Tokyo, Jepang. Di sana tersimpan lebih dari 400 patung lilin, mulai dari bintang film seperti Sylvester Stallone (Rambo), bintang olahraga, seperti Mohammad Ali, kepala negara, tokoh agama, dll. Patung-patung itu telah menghabiskan sekitar 1080 kg wax, atau setara dengan 16.000 batang lilin. Setiap patung di buat dalam waktu enam bulan dan menghabiskan biaya sebesar ₤30.000. Ratu Elizabeth II yang paling sering dibuat modelnya, yaitu 17 kali.

Sebagai salah satu objek pariwisata yang sangat diminati, tentu saja museum ini telah menyedot perhatian begitu banyak wisatawan, baik dalam negeri maupun mancanegara, tidaklah mengherankan kalau di depan museum tergantung tulisan yang artinya ‘harap luangkan waktu satu jam untuk antri tiket’. Memang demikianlah keadaannya, pada waktu-waktu sibuk seperti hari Minggu, pengunjung membludak, antrian bisa sangat panjang, meskipun harga tiket masuk relatif mahal.

Begitu memasuki arena museum kita akan dibawa ke suasana pesta taman pada malam hari. Lampion-lampion temaram bergelantungan di pohon buatan dan di langit-langit ruangan. Para pesohor dari dunia olahraga dan hiburan berbaur dengan para pengunjung. Kalau tidak teliti sukar untuk membedakan antara patung dengan para pengunjung. Suasananya tampak seperti hidup, ada patung yang tampak mengobrol, ada juga yang cuma berdiri, main piano, juga tertawa.

Berikutnya adalah ruang proses pembuatan patung. Di sini ada satu rak dinding yang penuh dengan bagian-bagian tubuh seperti kepala, tangan dan kaki patung yang belum sempurna. Juga ada patung Napoleon Bonaparte yang sedang tidur dengan dada yang naik turun tak ubahnya seperti orang yang sedang bernafas. Betul-betul seperti hidup.

Menginjak ruangan berikutnya akan dijumpai anggota keluarga kerajaan Inggris di masa lalu dan yang sekarang, para pesohor asal Inggris, negarawan dari berbagai negara serta tokoh agama. Ada Ratu Elizabeth I, Ratu Elizabeth II, Pangeran Charles, The Beatles, juga Lady Diana.

Memasuki Chamber of Horrors, atau ruang yang menakutkan mungkin kira-kira begitu, suasana yang lain terasa. Ruangan ini dibuat sedemikian rupa hingga tekesan menyeramkan. Suasananya remang-remang bahkan cenderung gelap, berdebu persis seperti gudang bawah tanah, dengan suara-suara atau jeritan yang menakutkan. Kalau sendirian di ruangan ini mungkin bisa merinding juga, tapi karena ramai-ramai, banyak pengunjung lainnya maka tidak terasa takut. Di sini terkumpul para tokoh-tokoh kriminal yang sangat jahat yang hidup di masa lampau, lengkap dengan tiruan penjara bawah tanah yang gelap, pengap dan berdebu. Juga ada peragaan hukuman pancung kepala dengan menggunakan guillotine. Terdengar suara berdebum tanda pisau guillotine telah melaksanakan tugasnya. Iihhh sungguh mengerikan. Juga ada upacara pembakaran hidup-hidup gadis muda Joan of Arc. Ia tengah berdiri di tengah kobaran api unggun dengan tubuh terikat di sebuah tonggak. Terdengar pula suara kemeretak api yang melalap kayu bakar. Sayang sekali larangan memotret diterapkan di ruangan ini.

Spirit of London adalah ruang terakhir sebelum mengantar ke pintu keluar. peragaan. Pengunjung dipersilahkan naik kereta api mini, dengan jalur memutar. Di kiri dan kanan di atas kepala masih banyak lagi patung-patung yang menggambarkan kehidupan Inggris di masa lampau. Ada patung yang sedang menulis dengan pulpen bulu angsa. Turun dari kereta api mini kita boleh memilih untuk istirahat sambil menikmati makanan kecil di kafe yang tersedia atau langsung keluar menuju ruang penjualan souvenir.

———————————————-#############——————————————-

Keukenhof, kebun sayur mayur yang menjadi taman bunga


Tulip memang identik dengan Belanda walaupun asalnya bukan dari sana, tetapi dari Turki. Adalah Carolus Clusius, seorang ahli biologi, yang pertama kali memperkenalkannya pada tahun 1953, dengan menanamnya di sebuah kebun di Leiden setelah mendapat kiriman bibit bunga ini dari temannya yang menjadi dutabesar di Kostantinopel. Tulip yang telah menjadi simbol negeri kincir angin ini bersama dengan bunga leli, daffodil, gladiol, merupakan produk ekspor penting negeri Belanda, dipasarkan hingga ke Amerika Serikat, Jerman dan Jepang.

+++

Berada di Belanda pada musim semi memang menyenangkan, karena itu berarti kesempatan untuk menikmati keindahan bunga tulip di Keukenhof, yang terletak sekitar 18 kilometer dari Amsterdam, di sebelah selatan Haarlem, antara kota Hillegom dan Lisse. Taman cantik seluas 32 hektar ini merupakan area pameran bagi industri bunga di Belanda.

Keukenhof sebelumnya tidaklah secantik sekarang. Dahulunya (1401-1436) tempat ini dimiliki oleh seorang wanita bangsawan Belanda, Countess Jacoba van Beieren. Ia memanfaatkan sebagian lahan untuk bertanam bumbu dapur, sayur mayur dan buah-buahan. Setiap hari sang countess mengumpulkan bahan-bahan segar untuk dapurnya. Inilah yang memberi nama kepada taman ini di kemudian hari, Keuken artinya dapur dan hof artinya kebun, secara harfiah Keukenhof berarti Kebun Dapur.

Pada tahun 1840, tempat ini di didisain ulang dalam gaya meniru alam. Dengan bentuk-bentuk permukaan tanah yang tidak beraturan serta dapat dijumpai kolam-kolam. Pada tahun-tahun berikutnya Keukenhof terus mengalami perkembangan hingga seperti sekarang ini.

Pada tahun 1949, walikota Lisse waktu itu bersama dengan 10 pengusaha bunga terkenal memunculkan gagasan untuk mengadakan pameran bunga yang sifatnya tahunan untuk menunjukkan kepada pengunjung berbagai jenis bunga yang ada di Belanda. Sebagai lokasi pameran mereka mendapatkan tempat ini yang kemudian dikenal sebagai taman bunga tulip terbesar di dunia.

Pada tahun pertama, pameran bunga ini berhasil menarik 236.000 pengunjung. Dengan berlalunya waktu Keukenhof semakin banyak menyedot perhatian pengunjung. Kini, selama sekitar 8 minggu setiap tahunnya, taman terkenal ini dapat menarik antara 700.000 hingga 900.000 pengunjung untuk melihat lebih dari 6.000.000 bunga, termasuk diantaranya 1000 jenis tulip.

Selama empat dekade pengunjung dari seluruh dunia datang kemari untuk menikmati keindahannya, meskipun demikian tujuan utamanya adalah tetap untuk memajukan industri bunga dan pariwisata adalah tujuan kedua. Awalnya hanya 10 pengusaha bunga yang berpartisipasi dalam pameran, tetapi kini telah bertambah menjadi lebih dari 90 pengusaha.

Keukenhof dibuka mulai akhir Maret hingga akhir April setiap tahunnya. Selama 10 bulan sebelumnya para suplier sibuk menyiapkan 32 hektar area displai dengan bunga aneka warna. Setiap setelah pameran usai semua bunga dicabut dan taman didisain ulang.  Tidak hanya tulip yang ditemui disini tetapi juga daffodil, narsiskus, hiasin, leli, dan lain-lain ditanam dibawah rindang daun pepohonan abad 18, di antara lapangan rumput hijau, kanal-kanal, danau buatan yang diisi angsa-angsa hitam dan putih (yang khusus disewa setiap tahunnya untuk mempercantik taman) dan jalan setapak untuk pengunjung, serta objek-objek seni lainnya seperti patung-patung. Saat terbaik untuk berkunjung adalah akhir April atau awal Mei dimana semua bunga sedang berkembang.

Selain dijumpai dalam taman di udara terbuka, bunga-bunga juga dipamerkan dalam pavilyun-pavilyun di dalam ruang tertutup dengan luas seluruhnya sekitar 7000 m2. Lebih dari 500 jenis bunga dipamerkan disini; diantaranya pernah dipamerkan satu spesies bunga tulip berwarna merah muda yang diberi nama Hillary Clinton.

Keindahan dan keunikan Keukenhof telah menjadikannya sebagai objek turis yang penting di Belanda dan salah satu tempat yang paling banyak dipotret di dunia. Setiap sudut  taman menawarkan keindahan, hamparan karpet bunga berwarna warni, angsa-angsa cantik penghias kolam, dan juga seorang noni Belanda yang ramah dan murah senyum dalam pakaian tradisional yang melepas para pengunjung di pintu keluar, semuanya memikat untuk difoto.

Panen Duku Sungai Lematang


Buah duku (Lansium domesticum, coor.) di luar Sumatra Selatan lebih di kenal dengan nama pasar Duku Palembang. Namun di kota Palembang sendiri ia tidak dibudi-dayakan, sehingga tidak akan pernah dijumpai duku Palembang. Di sana duku dikenal berdasarkan tempat asalnya, misalnya Duku Komering. Umumnya daerah penghasil duku adalah di hutan-hutan di tepian sungai. Di antaranya adalah di sekitar dusun yang kami datangi.

Dusun di tepi sungai
Bagi mereka yang terbiasa hidup di kota besar, jika harus tinggal menetap di pedalaman yang jauh dari keramaian tentu terasa tidak nyaman dan membosankan. Tapi sekali tempo, suasana dusun yang khas sungguh terasa lain dan enak dinikmati, terlebih lagi jika masih banyak sanak saudara dan karib kerabat yang tinggal di sana.

Nun jauh di sana, di pedalaman Sumatra Selatan, di tepian Sungai Lengi terdapatlah sebuah dusun bernama Gunung Megang Dalam yang termasuk wilayah kabupaten Muara Enim. Sungai Lengi merupakan anak dari Sungai Lematang. Sungai Lematang sendiri adalah anak sungai Musi dan merupakan salah satu dari beberapa sungai besar di Sumatra Selatan. Jika musim penghujan tiba, setiap tahun dusun ini hampir selalu dilanda banjir. Hingga terkadang jalan masuk ke dusun yang yang berada di tepi jalan lintas tengah Sumatera tertutup dan warga harus menggunakan sampan sebagai alat transportasi. Tetapi untungnya genangan air yang terkadang bisa mencapai ketinggian 1 meter bahkan lebih umumnya tidak berlangsung lama, surut kembali dalam 2 atau tiga hari.

Rumah-rumah penduduk di tepian sungai ini umumnya panggung dan terbuat dari kayu. Air sungai dimanfaatkan penduduk untuk mandi dan mencuci. Jika hendak turun ke sungai harus menggunakan tangga kayu, atau undakan yang sengaja dibuat. Permukaan air sungai tentu saja selalu berubah bergantung musim. Di musim kemarau air surut dan akan bermunculan pulau-pulau pasir. Airnyapun relatif jernih, sehingga sering dimanfaatkan penduduk untuk mandi dan berekreasi selayaknya di pantai. Kala musim penghujan tiba air menjadi keruh dan sungai menjadi dalam.

Bersampan ke hutan duku
Jika dusun Gunung Megang Dalam terletak di tepi Sungai Lengi maka lokasi hutan duku yang hendak didatangi terletak di tepi Sungai Lematang. Perjalanan menuju ke sana dilalui dengan menggunakan sampan kelotok bermotor tempel. Di pagi hari semua keperluan sudah dipersiapkan. Tali-temali, ember penampung buah duku, karung-karung plastik, sepatu boot, tikar untuk duduk istirahat, terpal untuk menutup buah jika turun hujan dan perlengkapan lainnya seperti pisau, jarum kasur dan tali rapia. Selain itu perlu juga beberapa tenaga pemanjat pohon.

Dengan menuruni tangga kayu di sela-sela akar pepohonan kami menuju sampan yang sudah menunggu di tepian sungai. Setelah motor dijalankan sampan melaju membelah air sungai dengan kecepatan sedang. Selain dusun yang tertinggal di belakang kami tak dijumpai adanya dusun lain. Ada beberapa sampan lain di kejauhan. Di kiri kanan hanya hutan campuran, durian, rambai, kedondong, berbagai jenis rerumputan dan tentu saja didominasi pohon duku. Semuanya adalah milik penduduk setempat yang telah diwariskan secara turun temurun. Entahlah sudah berapa tahun umur pohon duku tertua di sini.

Setelah dua puluh menit perjalanan yang mengasyikkan sampailah kami di tempat tujuan. Sampan merapat ke tepi. Satu persatu penumpang turun lalu menapaki jalanan becek naik ke darat. Di hadapan berdiri berjajar dengan jarak yang tidak terlalu rapat pepohonan duku yang siap dipanjat dan dipetik buahnya.


Panen duku
Pohon duku umumnya berbatang ramping dengan cabang-cabang menyebar dan ketinggian pohon dapat mencapai 30m. Daun tersusun berpasangan berhadap-hadapan dengan 5 hingga 7 helai dalam tiap tangkai. Bentuknya cenderung persegi panjang dan meruncing di kedua ujungnya. Berwarna hijau tua dan permukaannya berkilat. Bunganya kecil berwarna putih atau kuning pucat. Buahnya bulat, dalam tiap tangkai terdapat 8-15 buah. Kulit buah berwarna hijau jika masih mentah dan berubah menjadi kuning pucat bila sudah matang.

Duku menyukai tanah yang subur dan terairi dengan baik dengan keasaman berkisar pada pH 5.5 hingga 6.6. Tidak menyukai genangan air serta kemarau yang panjang meskipun untuk dapat berkembang dengan baik bunga setidaknya perlu 3-4 minggu tanpa turun hujan. Tanah aluvial yang subur dengan curah hujan yang cukup dan ketinggian yang relatif rendah membuat sepanjang Sungai Lematang merupakan salah satu tempat yang cocok bagi tumbuh suburnya pohon duku.

Buah yang telah matang akan berasa manis dan siap dipetik. Buah yang belum matang berasa pahit dan masam. Untuk menghindarkan buah jatuh ke tanah yang mengakibatkan buah pecah dan tidak tahan disimpan maka digunakan ember untuk menampung buah hasil petikan. Apabila ember sudah penuh, dengan menggunakan tali diulurkan ke bawah lalu buah di pindahkan ke dalam peti atau karung. Dari satu pohon dapat dihasilkan lebih dari satu kuintal buah duku.

Tanah yang basah, lembabnya dedaunan dan rerumputan, serta gerimis yang turun tidak mengganggu keasyikkan. Karena begitu asyiknya memanjat dan mengumpulkan buah duku, seorang pemetik buah tidak merasakan pacet yang merayap dan menghisap darah. Baru diketahui setelah timbul bercak-bercak darah di celana dan bekas gigitan di paha.

Selepas tengah hari terkumpul sudah segundukan karung plastik penuh buah duku. Setiap karung memuat kurang lebih 15 kg. Satu persatu karung diangkut dan disusun di atas sampan. Setelah membereskan segala sesuatunya kamipun bersiap untuk pulang. Kembali kami menyusuri sungai. Melaju searah arus air yang berwarna keruh kecoklatan.

Suasana ramai
Sesampai di dusun suasana tampak ramai. Di tepian sungai banyak sampan berlabuh. Truk-truk pengangkut buah duku diparkir di sana sini. Orang-orang ramai. Oh, rupanya para pemborong telah bersiap membawa duku ke kota. Di kolong-kolong rumah panggung sebagian warga sibuk menyortir buah duku. Memisahkan buah yang bagus dari yang sudah rusak dan menghitam. Buah-buah yang bagus lalu dikemas dalam peti-peti kayu dan siap untuk di pasarkan, hingga ke Pulau Jawa.

Bagi masyarakat setempat khususnya, saat musim panen duku memang selalu dinanti. Selain berarti tambahan penghasilan, orang-orang luar yang berdatangan memberikan suasana meriah pada dusun yang pada hari-hari biasa terasa hening, hanyut oleh tenangnya air sungai yang mengalir. ——######———