Diskotik “bemo” kota Kupang


Udara malam tepi laut tetap saja terasa gerah dan membuat berkeringat. Tebaran asap yang memenuhi ruangan membuat mata perih. Kipas angin yang terus berputar terasa tak ada manfaatnya, tidak mampu menyejukkan udara maupun mengusir asap yang terus berproduksi. Kami telah cukup lama menunggu hidangan ikan bakar…ketika seorang teman memberitahu:”Itu suara angkot di Kupang” katanya merujuk ke suara musik yang berdentam yang melintas di jalanan di sisi rumah makan. Suara itu menghentak di suasana malam kota Kupang, sesekali juga terdengar suara honk klakson angkot yang kerasnya hanya kalah satu tingkat saja dengan klakson bis malam.

Merasa tergelitik, esoknya mulai memperhatikan angkot-angkot yang lalu lalang di jalanan tanpa selokan dan gorong-gorong. Disini masyarakat menyebut angkot dengan sebutan bemo (meskipun beroda empat dan bukan tiga seperti umumnya bemo yang kita kenal). Lebih menarik lagi, tubuh angkot dan kacanya dipenuhi dengan lukisan semprot ataupun stiker beragam ukuran dan tulisan, dalam bahasa Indonesia, Inggris dan juga bahasa daerah. Ada stiker yang bertema cinta dengan gambar-gambar komik yang menarik maupun bertema relijius, seperti perjamuan terakhir atau kedua belah telapak tangan yang tertangkup, dengan tokoh utama Jesus, sesuai agama mayoritas masyarakat setempat. Stiker-stiker ini yang tampaknya membedakan angkot Kupang dengan angkot di kota lain seperti Palembang dan Padang yang keduanya juga menyetel musik berdentam, bahkan beberapa angkot Padang juga memasang televisi sebagai bagian dari servisnya.

Akhirnya pingin nyoba juga naik angkot. Dengan tarif dua ribu rupiah sampailah di terminal, yang berada di tepi pantai. Di sepanjang jalan musik house selalu menemani, meskipun berdentam tapi terasa mengasyikkan..karenanya kaki ikut bergoyang. Agak tidak biasa….karena selama beberapa hari di Kupang tak terdengar musik dangdut. Ternyata mereka punya selera musik yang berbeda. Hanya sayangnya pandangan keluar menjadi sangat terbatas karena kaca-kaca dipenuhi stiker. Jika dinding angkot penuh tempelan stiker maka ruang supir penuh boneka yang bergelantungan di kaca depan.

Terminal berada di tepi Pantai Timor. Berdekatan dengan pasar dan pertokoan. Area tidak luas, dan angkot juga berhenti dimana saja, sesukanya. Tapi meskipun begitu tidak menimbulkan kemacetan karena jumlahnya kendaraan yang tidak banyak.

Bagaimana jika naik angkot di malam hari? Tentunya lebih seru. Suasana remang lampu berkedip dan musik house yang berdentam dari pengeras suara menyeruak diantara gelapnya malam menyulap angkot menjadi diskotik “dugem” berjalan. Semakin dorang kasih keras dorang pung musik, penumpang semakin suka.. Kalau musik tidak berdentam penumpang tak mau naik, begitu ceritanya…….. —————————-#######———————

One thought on “Diskotik “bemo” kota Kupang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s