Panen Duku Sungai Lematang


Buah duku (Lansium domesticum, coor.) di luar Sumatra Selatan lebih di kenal dengan nama pasar Duku Palembang. Namun di kota Palembang sendiri ia tidak dibudi-dayakan, sehingga tidak akan pernah dijumpai duku Palembang. Di sana duku dikenal berdasarkan tempat asalnya, misalnya Duku Komering. Umumnya daerah penghasil duku adalah di hutan-hutan di tepian sungai. Di antaranya adalah di sekitar dusun yang kami datangi.

Dusun di tepi sungai
Bagi mereka yang terbiasa hidup di kota besar, jika harus tinggal menetap di pedalaman yang jauh dari keramaian tentu terasa tidak nyaman dan membosankan. Tapi sekali tempo, suasana dusun yang khas sungguh terasa lain dan enak dinikmati, terlebih lagi jika masih banyak sanak saudara dan karib kerabat yang tinggal di sana.

Nun jauh di sana, di pedalaman Sumatra Selatan, di tepian Sungai Lengi terdapatlah sebuah dusun bernama Gunung Megang Dalam yang termasuk wilayah kabupaten Muara Enim. Sungai Lengi merupakan anak dari Sungai Lematang. Sungai Lematang sendiri adalah anak sungai Musi dan merupakan salah satu dari beberapa sungai besar di Sumatra Selatan. Jika musim penghujan tiba, setiap tahun dusun ini hampir selalu dilanda banjir. Hingga terkadang jalan masuk ke dusun yang yang berada di tepi jalan lintas tengah Sumatera tertutup dan warga harus menggunakan sampan sebagai alat transportasi. Tetapi untungnya genangan air yang terkadang bisa mencapai ketinggian 1 meter bahkan lebih umumnya tidak berlangsung lama, surut kembali dalam 2 atau tiga hari.

Rumah-rumah penduduk di tepian sungai ini umumnya panggung dan terbuat dari kayu. Air sungai dimanfaatkan penduduk untuk mandi dan mencuci. Jika hendak turun ke sungai harus menggunakan tangga kayu, atau undakan yang sengaja dibuat. Permukaan air sungai tentu saja selalu berubah bergantung musim. Di musim kemarau air surut dan akan bermunculan pulau-pulau pasir. Airnyapun relatif jernih, sehingga sering dimanfaatkan penduduk untuk mandi dan berekreasi selayaknya di pantai. Kala musim penghujan tiba air menjadi keruh dan sungai menjadi dalam.

Bersampan ke hutan duku
Jika dusun Gunung Megang Dalam terletak di tepi Sungai Lengi maka lokasi hutan duku yang hendak didatangi terletak di tepi Sungai Lematang. Perjalanan menuju ke sana dilalui dengan menggunakan sampan kelotok bermotor tempel. Di pagi hari semua keperluan sudah dipersiapkan. Tali-temali, ember penampung buah duku, karung-karung plastik, sepatu boot, tikar untuk duduk istirahat, terpal untuk menutup buah jika turun hujan dan perlengkapan lainnya seperti pisau, jarum kasur dan tali rapia. Selain itu perlu juga beberapa tenaga pemanjat pohon.

Dengan menuruni tangga kayu di sela-sela akar pepohonan kami menuju sampan yang sudah menunggu di tepian sungai. Setelah motor dijalankan sampan melaju membelah air sungai dengan kecepatan sedang. Selain dusun yang tertinggal di belakang kami tak dijumpai adanya dusun lain. Ada beberapa sampan lain di kejauhan. Di kiri kanan hanya hutan campuran, durian, rambai, kedondong, berbagai jenis rerumputan dan tentu saja didominasi pohon duku. Semuanya adalah milik penduduk setempat yang telah diwariskan secara turun temurun. Entahlah sudah berapa tahun umur pohon duku tertua di sini.

Setelah dua puluh menit perjalanan yang mengasyikkan sampailah kami di tempat tujuan. Sampan merapat ke tepi. Satu persatu penumpang turun lalu menapaki jalanan becek naik ke darat. Di hadapan berdiri berjajar dengan jarak yang tidak terlalu rapat pepohonan duku yang siap dipanjat dan dipetik buahnya.


Panen duku
Pohon duku umumnya berbatang ramping dengan cabang-cabang menyebar dan ketinggian pohon dapat mencapai 30m. Daun tersusun berpasangan berhadap-hadapan dengan 5 hingga 7 helai dalam tiap tangkai. Bentuknya cenderung persegi panjang dan meruncing di kedua ujungnya. Berwarna hijau tua dan permukaannya berkilat. Bunganya kecil berwarna putih atau kuning pucat. Buahnya bulat, dalam tiap tangkai terdapat 8-15 buah. Kulit buah berwarna hijau jika masih mentah dan berubah menjadi kuning pucat bila sudah matang.

Duku menyukai tanah yang subur dan terairi dengan baik dengan keasaman berkisar pada pH 5.5 hingga 6.6. Tidak menyukai genangan air serta kemarau yang panjang meskipun untuk dapat berkembang dengan baik bunga setidaknya perlu 3-4 minggu tanpa turun hujan. Tanah aluvial yang subur dengan curah hujan yang cukup dan ketinggian yang relatif rendah membuat sepanjang Sungai Lematang merupakan salah satu tempat yang cocok bagi tumbuh suburnya pohon duku.

Buah yang telah matang akan berasa manis dan siap dipetik. Buah yang belum matang berasa pahit dan masam. Untuk menghindarkan buah jatuh ke tanah yang mengakibatkan buah pecah dan tidak tahan disimpan maka digunakan ember untuk menampung buah hasil petikan. Apabila ember sudah penuh, dengan menggunakan tali diulurkan ke bawah lalu buah di pindahkan ke dalam peti atau karung. Dari satu pohon dapat dihasilkan lebih dari satu kuintal buah duku.

Tanah yang basah, lembabnya dedaunan dan rerumputan, serta gerimis yang turun tidak mengganggu keasyikkan. Karena begitu asyiknya memanjat dan mengumpulkan buah duku, seorang pemetik buah tidak merasakan pacet yang merayap dan menghisap darah. Baru diketahui setelah timbul bercak-bercak darah di celana dan bekas gigitan di paha.

Selepas tengah hari terkumpul sudah segundukan karung plastik penuh buah duku. Setiap karung memuat kurang lebih 15 kg. Satu persatu karung diangkut dan disusun di atas sampan. Setelah membereskan segala sesuatunya kamipun bersiap untuk pulang. Kembali kami menyusuri sungai. Melaju searah arus air yang berwarna keruh kecoklatan.

Suasana ramai
Sesampai di dusun suasana tampak ramai. Di tepian sungai banyak sampan berlabuh. Truk-truk pengangkut buah duku diparkir di sana sini. Orang-orang ramai. Oh, rupanya para pemborong telah bersiap membawa duku ke kota. Di kolong-kolong rumah panggung sebagian warga sibuk menyortir buah duku. Memisahkan buah yang bagus dari yang sudah rusak dan menghitam. Buah-buah yang bagus lalu dikemas dalam peti-peti kayu dan siap untuk di pasarkan, hingga ke Pulau Jawa.

Bagi masyarakat setempat khususnya, saat musim panen duku memang selalu dinanti. Selain berarti tambahan penghasilan, orang-orang luar yang berdatangan memberikan suasana meriah pada dusun yang pada hari-hari biasa terasa hening, hanyut oleh tenangnya air sungai yang mengalir. ——######———

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s