Luxembourg Ville, kota di negeri dongeng


Artikel ini dimuat di harian Pikiran Rakyat, Bandung, Ahad, 11 Januari 2004

Sabtu pagi yang membekukan di musim dingin. Sambil menahan dingin, dengan berlari-lari kecill, karena kuatir berpapasan dengan mereka yang mabuk, kami menembus kegelapan pagi menuju pemberhentian trem. Jalanan masih begitu sepi. Di dekat kami berdiri menanti hanya ada dua orang lainnya. Sekitar dua menit kemudian trem datang, tepat pada waktunya. Kami segera naik, dengan tujuan stasiun  Mainz. Berbekal satu lembar wochenende tiket kami bermaksud mengejar kereta api paling pagi menuju ke Trier, untuk selanjutnya menyeberang ke ibu kota Luxembourg, Luxembourg City atau Luxembourg Ville.

Sekitar pukul 9 pagi, kereta tiba di stasiun kota. Langit-langit stasiun yang didekorasi lukisan mencuri perhatian kami begitu berjalan menuju pintu keluar. Jendela-jendela berkaca mosaik menampakkan pemandangan kota. Sebuah stasiun tua yang masih kokoh dan terawat dengan menara jam yang mendominasi pemandangan sekitar, cantik dalam arsitektur bergaya “Baroque Moselle“.

Cuaca dingin kembali menyergap. Gerimis halus menyambut di pelataran. Membentuk bintik-bintik air di mantel. Tak ada yang dapat menyurutkan langkah untuk terus berjalan. Arah utara dipilih. Dengan berjalan kaki, perjalanan berlanjut menuju ke pusat kota.  Menyusuri jembatan di atas sungai Petrusse.  Monumen solidaritas telah dilewati.  Kini telah berada di Boulevard F. D. Rossevelt. Dari kejauhan tampak menara katedral Our Lady, di distrik pemerintahan. Tak banyak orang dan kendaraan lalu lalang di jalanan yang basah di penghujung Desember. Hanya ada beberapa gelintir turis asing, tampaknya dari Eropa timur dan Jepang. Penduduk lebih memilih diam di rumah dalam masa liburan akhir tahun ini.

Daerah pusat kota merupakan bagian dari Kota Tua Luxembourg. Siapa saja yang mengitarinya akan menemukan bermacam patung-patung data, patung-patung (di lapangan Clairefontaine dan lapangan William), bangunan-bangunan tua bersejarah (istana Grand Ducal) dan batu-batu peringatan (bongkah Goethe). Diantara gedung-gedung tua terdapat jalan-jalan kecil yang terbuat  dari  susunan batu alam. Semuanya bersih, sepotong kertaspun tak nampak.

Dari pusat kota berjalan terus ke arah timur akan sampai  ke Chemin de la Corniche, yang dijuluki  “balkon terindah di Eropa”. Dinding Balkon Eropa ini memanjang di atas lembah Alzette, mulai dari Tinggian Bock hingga ke bagian bawah Holy Ghost Citadel, yang disebut Rondellen, dibangun oleh bangsa Spanyol dan Perancis pada abad ke 17. Hingga tahun 1870 Corniche pada bagian yang curam diberi bertangga yang lalu diratakan setelah pembongkaran benteng. Penghilangan dinding pelindung ini telah menguakkan kecantikan alam lembah sungai Alzette, dimana terhampar distrik perkotaan Grund, Clausen dan Pfaffenthal.

Warna kecoklatan dari pepohonan yang kehilangan daun tampak mendominasi, menampakkan keindahan bernuansa suram khas musim dingin. Menyusuri jalan-jalan kota, memandang panorama alam bagian  kota tua Luxembourg yang mempesonakan membuat seolah-olah berada di negeri dongeng. Terbayang kembali di pelupuk mata gambar-gambar ilustrasi dalam cerita anak-anak. Menara gereja yang runcing menjulang dengan patung ayam jantan di ujungnya. Bangunan sisa benteng peninggalan masa silam. Rumah-rumah cantik berwarna cerah, pada umumnya berdinding warna kuning atau oranye, membawa terbang ke negeri Grimm bersaudara.

——————————————————————————————-

Luxembourg  merupakan ibukota dari Grand Duchy of Luxembourg, sebuah negara kecil dengan luas 2.586 km persegi di barat laut  Eropa, dikelilingi oleh Belgia di barat dan utara, Jerman di bagian timur dan Perancis di selatan. Penduduk negara ini sebagian besar berlatar belakang Jerman atau Perancis, dengan bahasa nasionalnya Luxembourgisch (bahasa Jerman), selain itu bahasa Perancis dan Jerman juga dipakai sebagai bahasa resmi. Sejak 1 Januari 2002, mata uang Euro mulai diberlakukan menggantikan franc Luxembourg.

Luxembourg Ville merupakan kota tua medieval, dibangun pada tempat yang dramatis, pada Tinggian Bock yang menggantung di atas lembah sungai Petrusse dan Alzette. Pada tahun 963 Siegfried, Count of Ardenne, mendapatkan batu besar yang tinggi ini, cikal bakal kota Luxembourg, melalui barter dengan Biara Saint Maximin di Trier. Batuan dimana diatasnya Siegfried membangun puri ini, secara strategis memainkan peranan penting dalam hal pertahanan. Pada ketiga sisinya, selatan, timur dan timur laut Tinggian Bock dikitari oleh lembah sungai Petrusse dan Alzette yang bertindak sebagai pertahanan alam. Pada sisi barat yang dapat dimasuki musuh diberi berbenteng, seperti umumnya kota-kota lain di Eropa pada abad pertengahan.

Di sebelah dalam Tinggian Bock terdapat tambang arkeologi dan juga Casemates, yang dahulunya digunakan sebagai sarana pertahanan bawah tanah. Casemates adalah  suatu jaringan terowongan bawah tanah pertama yang dibangun tahun 1644, pada era dominasi Spanyol. Panjang terowongan mencapai 23 km dan mempunyai lebih dari 40.000 m2 ruang tahan bom yang selain mampu menampung ribuan serdadu dengan peralatan dan kuda mereka, juga terdapat bengkel untuk membuat artileri dan perlengkap perang lainnya, dapur, tempat membuat roti, dan tempat pemotongan hewan. Hasil karya yang mengesankan inilah yang membuat Luxembourg dijuluki “Gibraltar dari Utara”.

Luxembourg mendapatkan namanya dari kata “Lucilinburhuc” yang berarti “benteng kecil”, yang berdiri di sana pada masa itu dan berasal dari masa  Kekaisaran Romawi. Kota ini menjadi kota benteng selama hampir 1000 tahun, hingga tahun 1867, ketika Traktat  London yang ditandatangani oleh para superpower pada 11 Mei tahun yang sama menyetujui pembongkaran benteng. Yang masih bisa disaksikan saat ini hanya sekitar 10% saja, termasuk 17 km sisa terowongan Casemates, semuanya dalam keadaan terawat baik. Sisa-sisa benteng dan Kota Tua Luxembourg yang bersejarah pada tahun 1994 mendapatkan reputasi international sebagai “Warisan Dunia” oleh UNESCO

Dalam sejarahnya, negara ini mengalami berganti-ganti penguasa mulai dari Kekaisaran Romawi hingga abad ke 15, lalu Spanyol dan Austria bergantian mendominasi selama 4 abad berikutnya. Belanda, Belgia, dan Jerman juga pernah mendominasi wilayah ini.  Karena itu tidak mengherankan jika banyak ditemukan bangunan-bangunan tua yang bersejarah peninggalan para penguasa yang menjadi tempat-tempat menarik bagi para turis.

Kini selain sebagai kota medieval, Luxembourg juga telah menjadi kota Eropa. Di pusat Eropa yang unik ini beberapa lembaga-lembaga Eropa bermarkas di sana, misalnya: Mahkamah Eropa, Bank Investasi Eropa, Lembaga Auditor Eropa, Sekretaris Jenderal Parlemen Eropa, beberapa Direktorat Jenderal Komisi Eropa dll. Mulai awal tahun enampuluhan telah berkembang pemukiman Eropa yang berdiri di atas dataran tinggi Kirchberg, dihubungkan ke pusat kota oleh jembatan Grande Duchesse of  Charlotte. Luxembourg berkembang dari kota kecil menjadi persimpangan jalan benua Eropa. Itulah Luxembourg sekarang, kota seribu wajah,  perpaduan antara kota tua medieval dan kota metropolis Eropa.

——————————————————————————————-

Corniche (balkon Eropa), dengan lembah sungai Alzette yang indah di bawahnya, menciptakan Luxembourg sebagai kota bertingkat.Grande Duchesse of Charlotte (Jembatan Merah)– menghubungkan pusat kota dengan pusat Eropa di Kirchberg, melintasi Pfaffenthal, 74 meter di atas lembah Alzette.

3 thoughts on “Luxembourg Ville, kota di negeri dongeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s